FILOSOFI RUMAH MELAYU

KERATON KADRIYAH, PONTIANAKPENDAHULUAN
Dalam budaya Melayu, seni pembangunan rumah tradisional disebut dengan istilah Seni Bina. Rumah memiliki arti yang sangat penting bagi orang Melayu. Rumah bukan saja sebagai tempat tinggal di mana kegiatan kehidupan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tetapi juga menjadi lambang kesempurnaan hidup. Beberapa ungkapan tradisional Melayu menyebutkan rumah sebagai “Cahaya Hidup di Bumi, Tempat Beradat Berketurunan, Tempat Berlabuh Kaum Kerabat, Tempat Singgah Dagang Lalu, Hutang Orang tua kepada Anaknya”.
Dalam pergaulan sehari-hari orang Melayu, rumah kediaman menjadi ukuran apakah seseorang bertanggung jawab terhadap keluarganya atau tidak. Orang yang tidak berumah sendiri, lazim dianggap tidak atau kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak istrinya. Oleh karena itu orang Melayu selalu berusaha mendirikan rumah kediaman. Walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Orang Melayu mengatakan bahwa semut,hewan yang sangat kecil saja mampu membangun rumah kediamannya.
Maka mustahil manusia tidak mampu mendirikan rumah kediamannya. Orang tua-tua mengatakan, kalau manusia tidak berumah, seperti beruk buta di dalam rimba. Ungkapan ini bagi orang Melayu sangat memalukan. Bukan saja bagi pribadinya, tetapi juga bagi keluarga dan kaum kerabatnya. Orang Melayu juga mendambakan rumah kediaman yang baik dan sempurna, yang bangunan fisiknya memenuhi ketentuan adat dan keperluan penghuninya. Sedangkan dari sisi spiritualnya, rumah itu dapat mendatangkan kebahagiaan, kenyamanan, kedamaian dan ketenteraman.
Hal ini menjadikan rumah mustahak dibangun dengan berbagai pertimbangan yang cermat, dengan memperhatikan lambang-lambang yang merupakan refleksi nilai budaya masyarakat pendukungnya. Dengan cara demikian diyakini sebuah rumah akan benar-benar dapat memberikan kesejahteraan lahir dan batin, bagi penghuni rumah dan bagi masyarakat sekitarnya.
Lambang-lambang yang berkaitan dengan bangunan tradisional Melayu, bukan saja terdapat pada bagian-bagian bangunan. Tetapi juga dalam bentuk berbagai upacara, bahan bangunan dan nama-namanya, serta letak sebuah bangunan. Bangunan tradisional Melayu adalah suatu bangunan yang utuh, yang dapat dijadikan tempat kediaman keluarga, tempat bermusyawarah, tempat beradat berketurunan, tempat berlindung siapa saja yang memerlukannya.
Menurut tradisi, orang Melayu percaya kepada empat cahaya di bumi yang terdiri dari rumah tangga, ladang bertumpuk, beras padi, dan anak muda-muda. Cahaya pertama yaitu rumah tangga hendaklah dipelihara sebaik-baiknya dengan dipagari oleh adat atau tradisi. Karena luasnya kandungan makna dan fungsi bangunan dalam kehidupan orang Melayu, yang akan menjadi kebanggaan dan memberikan kesempurnaan hidup, bangunan sebaiknya didirikan melalui tata cara pembuatan yang sesuai dengan ketentuan adat. Dengan memakai tata cara yang tertib, barulah sebuah bangunan dapat disebut “Rumah Sebenar Rumah”.
Iklim setempat turut menentukan bentuk atau arsitektur tradisional rumah Melayu. Hal ini terlihat pada perkampungan Melayu yang berbentuk memanjang, berbanjar mengikuti jalur sungai atau jalur jalan. Pada umumnya rumah Melayu memiliki halaman yang luas dan ditumbuhi dengan pohon buah-buahan.
Sirkulasi udara dan cahaya matahari harus cukup memasuki setiap ruangan rumah, sehinga penghuni merasa segar dan nyaman. Berdasarkan iklim ini pula maka bentuk arsitektur rumah Melayu baik di darat maupun dekat dengan sungai dan pantai pada dasarnya berkolong atau berpanggung dan bertiang tinggi. Bentuk rumah panggung ini sangat berguna untuk penyelamatan dari bahaya banjir dan ancaman binatang buas, mengatasi kelembapan udara, dan merupakan tempat kerja darurat serta menyimpan perkakas kerja.
Dalam membangun rumah tradisional Melayu, syariat agama Islam sangat diperhatikan. Letak ruang kaum lelaki berbeda dengan ruang para perempuan. Ragam hias ukiran jarang dibuat dengan motif hewan ataupun manusia. Tetapi dengan masuknya pengaruh kebudayaan Timur Jauh dan negara-negara tetangga, serta motif-motif yang diperoleh pengukir-pengukir Melayu dari perantauan, maka muncullah ukiran-ukiran yang bermotifkan margasatwa, berupa gambar naga, ikan, burung, atau binatang lain. Motif-motif ini sudah barang tentu telah disesuaikan dengan iklim, adat resam, dan syariat agama Islam.
Hal penting yang harus diperhatikan dalam mewujudkan bangunan dan lambang-lambangnya adalah musyawarah. Oleh karena itu langkah pertama sebelum mendirikan sebuah bangunan adalah melakukan musyawarah. Baik antar keluarga ataupun dengan melibatkan anggota masyarakat lainnya. Di dalam musyawarah itu dibicarakan tentang jenis bangunan yang akan didirikan, kegunaannya, bahan yang diperlukan, lokasi bangunan, tukang yang akan mengerjakannya, dan waktu dimulainya pekerjaan. Biasanya dalam musyawarah itu dijelaskan pula segala pantangan dan larangan, adat dan kebiasaan yang harus dijalankan dengan tertib. Pengerjaannya ditekankan pada asas gotong royong.
Seorang anggota masyarakat yang mendirikan sebuah bangunan tanpa mengadakan musyawarah dapat dianggap orang yang kurang adab atau tak tahu adat. Orang tua-tua merasa dilangkahi dan orang muda-muda merasa ditinggalkan. Bangunan yang didirikan tanpa musyawarah terlebih dahulu akan menyebabkan pemiliknya mendapat umpatan dari masyarakat. Sedangkan bangunan itu sendiri dianggap mendatangkan sial.
Jadi, musyawarah dan kegotongroyongan yang menjadi dasar kehidupan tradisional merupakan landasan dari pekerjaan membuat sebuah rumah. Lambang-lambang yang berkenaan dengan bangunan tradisional Melayu tergambar dengan baik dalam upacara-upacara, ukuran bangunan, bagian-bangunan bangunan, dan ragam hiasnya.(*)
KARAKTERISTIK RUMAH MELAYU
Ditinjau dari tipologi dan fungsi ruang, rumah tradisional Melayu pada umumnya terdiri atas tiga jenis, yaitu Rumah Tiang Enam, Rumah Tiang Enam Berserambi, dan Rumah Tiang Dua Belas, atau Rumah Serambi. Rumah Tiang Dua Belas atau Rumah Serambi merupakan rumah besar dengan tiang induk sebanyak dua belas buah.
Tipologi rumah tradisional Melayu adalah rumah panggung atau berkolong, dan memiliki tiang-tiang tinggi. Hal ini sesuai dengan iklim setempat serta kebiasaan yang sudah turun temurun. Tinggi tiang penyangga rumah sekitar dua sampai dua setengah meter. Tinggi rumah induk bagian atas sekitar tiga atau tiga setengah meter. Suasana di dalam ruangan sejuk dan segar karena banyak memiliki jendela serta lubang angin (ventilasi).
Setiap ruangan pada rumah Melayu memiliki nama dan fungsi tertentu. Selang depan berfungsi sebagai tempat meletakkan barang-barang tamu, yang tidak dibawa ke dalam ruangan. Ruang serambi depan berfungsi sebagai tempat menerima tamu pria, tetangga dekat, orang-orang terhormat, dan yang dituakan. Ruangan serambi tengah atau ruang induk berfungsi sebagai tempat menerima tamu agung, dan yang sangat dihormati.
Ruang selang samping berfungsi sebagai tempat meletakkan barang yang tidak dibawa ke dalam ruang serambi belakang. Tempat ini merupakan jalan masuk bagi tamu perempuan. Ruang dapur dipergunakan untuk memasak dan menyimpan barang-barang keperluan dapur. Karena susunan papan lantainya jarang, maka sampah dapat langsung dibuang ke tanah. Ruangan kolong rumah biasanya digunakan sebagai tempat bekerja sehari-hari dan menyimpan alat-alat rumah. Sedangkan WC dan kandang ternak (kambing atau ayam) letaknya agak di belakang rumah.
Dari antara jenisnya, rumah kediaman lazim disebut rumah tempat tinggal atau rumah tempat diam, yaitu rumah yang khusus untuk tempat kediaman keluarga. Di dalam kehidupan sehari-hari, rumah kediaman wajib dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya agar lebih memberi kenyamanan dan kebahagiaan bagi penghuninya. Berdasarkan bentuk atapnya, rumah kediaman dinamakan Rumah Bubung Melayu atau Rumah Belah Rabung atau Rumah Rabung.
Nama Rumah Bubung Melayu diberikan oleh para pendatang bangsa asing, terutama Cina dan Belanda, karena berbeda dengan bentuk rumah mereka, yaitu seperti kelenteng maupun rumah limas yang mereka sebut sebagai rumah Eropa. Sedangkan nama Rumah Belah Rabung diberikan oleh orang Melayu. Karena bentuk atapnya terbelah oleh bubungannya. Orang tua-tua menyebut dengan nama Belah Krol yaitu rambut yang disisir terbelah dua. Nama Rumah Rabung berasal dari kata Rabung, singkatan dari Perabung. Penyebutan ini untuk membedakan dengan bentuk atap yang tidak memakai perabung seperti bangunan pondok ladang atau gubuk yang disebut Pondok Pisang Sesikat.
Sebutan lain yang diberikan untuk rumah adalah berdasarkan pada bentuk kecuraman dan variasi atap. Rumah dengan atap curam disebut rumah Lipat Pandan. Jika atapnya agak mendatar disebut rumah Lipat Kajang, dan bila atapnya diberi tambahan di bagian bawah (kaki atap) dengan atap lain maka disebut rumah Atap Layar atau Rumah Ampar Labu.
Penamaan lain adalah berdasarkan pada posisi rumah terhadap jalan raya. Rumah yang dibuat dengan perabung atap sejajar dengan jalan raya di mana rumah itu terletak, disebut Rumah Perabung. Sedangkan bila perabung rumah tegak lurus terhadap jalan raya di mana umah itu menghadap, disebut Rumah Perabung Melintang.
Rumah didirikan di atas tiang yang tingginya antara 1,50—2,40 Meter. Ukuran rumah tidak ditentukan. Besar kecilnya bangunan bergantung kepada kemampuan pemiliknya. Pada rumah yang didirikan di daerah tepi sungai atau pantai, tiang dibuat tinggi supaya rumah tidak terendam air pasang. Kolong rumah sering digunakan untuk tempat bertukang membuat perahu atau pekerjaan lain. Di samping sebagai tempat menyimpan sebagian alat pertanian dan alat nelayan.(*)
BAGIAN-BAGIAN RUMAH MELAYU
1. ATAP DAN BUBUNGAN
Bahan utama atap adalah daun nipah dan daun rumbia. Tetapi pada perkembangannya sering dipergunakan atap seng. Atap dari daun nipah atau rumbia dibuat dengan cara menjalinnya pada sebatang kayu yang disebut bengkawan. Biasanya dibuat dari nibung atau bambu. Pada bengkawan tersebut atap diletakkan, dijalin dengan rotan, kulit bambu atau kulit pelepah rumbia. Jika atap dibuat dari satu lapis daun saja maka disebut Kelarai. Sedangkan jika terdiri atas dua lapis disebut Mata Ketam. Atap Mata Ketam lebih rapat, lebih tebal dan lebih tahan dari atap Kelarai.
Isi perut rotan atau bambu dipakai sebagai penjalin atau disebut liet. Untuk membuat liet bambu atau rotan dilayuh dengan api. Kemudian direndam ke dalam air. Sesudah beberapa waktu dibelah dan diambil isinya, dibuat seperti helai-helai rotan yang lazim dipakai sebagai anyaman. Untuk memasang atap dipergunakan tali rotan. Sedangkan untuk memasang perabung dipergunakan pasak yang terbuat dari nibung. Pekerjaan memasang atap disebut dengan Menyangit.
Rumah Melayu asli memiliki bubungan panjang sederhana dan tinggi. Ada kalanya terdapat bubungan panjang kembar. Pada pertemuan atap dibuat talang yang berguna untuk menampung air hujan. Pada kedua ujung perabung rumah induk dibuat agak terjungkit ke atas. Dan pada bagian bawah bubungan atapnya melengkung, menambah seni kecantikan arsitektur rumah Melayu. Pada bagian belakang dapur bubungan atap dibuat lebih tinggi, berjungkit. Bagian ini disebut Gajah Minum atau Gajah Menyusu. Pada ujung rabung yang terjungkit diberi sekeping papan bertebuk sebagai hiasan, yang juga berfungsi sebagai penutup ujung kayu perabung. Selanjutnya pada bagian bawah, papan penutup rabung ini dibuat semacam lisplang berukir, memanjang menurun sampai ke bagian yang sejajar dengan tutup tiang.
Dalam bahasa Melayu papan lisplang berukir ini disebut Pamelas. Dengan demikian bentuk pamelas ini melengkung mengikuti bentuk rangka atapnya. Ukiran pada papan pamelas ini ada yang selapis dan ada pula yang dua lapis. Hal ini tampak pada lisplang tutup angin yang memiliki ragam hias Ricih Wajit. Dilihat dari bentuknya, bubungan rumah Melayu dapat dibedakan menjadi a). Bubungan Panjang Sederhana b). Bubungan Lima c). Bubungan Perak d). Bubungan Kombinasi e). Bubungan Limas f). Bubungan Panjang Berjungkit g). Bubungan Gajah Minum.
2. PERABUNG DAN TEBAN LAYAR
Perabung memiliki bentuk lurus. Sebagai lambang lurusnya hati orang Melayu. Sifat lurus itu haruslah dijunjung tinggi di atas kepala dan menjadi pakaian hidup. Hiasan yang terdapat pada perabung rumah adalah hiasan yang terletak di sepanjang perabung, disebut Kuda Berlari. Hiasan ini amat jarang dipergunakan. Lazimnya hanya dipergunakan pada perabung istana, Balai Kerajaan dan balai penguasa tertinggi wilayah tertentu.
Adapun Teban Layar biasa pula disebut Singap, Ebek atau Bidai. Bagian ini biasanya dibuat bertingkat dan diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi. Pada bagian yang menjorok keluar diberi lantai yang disebut Teban Layar atau Lantai Alang Buang atau disebut juga Undan-undan. Bidai lazimnya dibuat dalam tiga bentuk, yakni bidai satu (bidai rata), bidai dua (bidai dua tingkat) dan bidai tiga (bidai tiga tingkat). Setiap nama itu mempunyai lambang tertentu.
3. TIANG
Bangunan tradisional Melayu adalah bangunan bertiang. Tiang dapat berbentuk bulat atau bersegi. Sanding Tiang yang bersegi diketam dengan ketam khusus yang disebut Kumai. Sanding Tiang adalah sudut segi-segi tiang. Di antara tiang-tiang itu terdapat tiang utama, yang disebut Tiang Tua dan Tiang Seri. Tiang Seri adalah tiang-tiang yang terdapat pada keempat sudut rumah induk, merupakan tiang pokok rumah tersebut.
Tiang ini tidak boleh bersambung, harus utuh dari tanah sampai ke tutup tiang. Sedangkan tiang yang terletak di antara tiang seri pada bagian depan rumah, disebut Tiang Penghulu. Jumlah tiang rumah induk paling banyak 24 buah. Sedangkan tiang untuk bagian bangunan lainnya tidaklah ditentukan jumlahnya. Pada rumah bertiang 24, tiang-tiang itu didirikan dalam enam baris. Masing-masing baris 4 buah tiang, termasuk tiang seri.
Jika keadaan tanah tempat rumah itu didirikan lembek atau rumah itu terletak di pinggir, maka tiang-tiang itu ditambah dengan tiang yang berukuran lebih kecil. Tiang tambahan itu disebut Tiang Tongkat. Tiang Tongkat biasanya hanya sampai ke rasuk atau gelegar. Untuk menjaga supaya rumah tidak miring, dipasang tiang pembantu sebagai penopang ke dinding atau ke tiang lainnya. Tiang ini disebut Sulai.
Bahan untuk Tiang Seri haruslah kayu pilihan. Biasanya teras kayu Kulim, Naling, Resak dan Tembesu. Untuk Tiang Tongkat atau Sulai cukup mempergunakan kayu biasa. Tiang-tiang lainnya mempergunakan kayu keras dan tahan lama. Bila di daerah itu kayu sukar dicari, maka Nibung (kayu dari pohon kelapa) dipergunakan sebagai Tiang Tongkat atau Sulai. Tetapi Nibung tidak dapat dipergunakan untuk Tiang Seri atau tiang-tiang lainnya.
Ukuran maksimum dan minumum sebuah tiang tidak ditentukan. Ukuran ini bergantung kepada besar atau kecilnya rumah. Semakin besar rumahnya, besar pula tiang-tiangnya. Tiang yang kelihatan di bagian dalam rumah selalu diberi hiasan berupa ukiran. Untuk pemilik rumah yang mampu, seluruh tiangnya dibuat persegi. Tetapi bagi yang kurang mampu, tidak seluruh tiang persegi, melainkan hanya tiang seri atau beberapa tiang lainnya, atau bahkan semuanya bulat.
Bentuk tiang secara tradisional, mengandung lambang yang dikaitkan dengan agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat. Termasuk kaitannya dengan alam lingkungan dan arah mata angin. Lambang-lambang itu kemudian dijalin dengan makna tertentu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
4. PINTU
Pintu disebut juga Lawang. Pintu masuk di bagian muka rumah disebut pintu muka. Sedangkan pintu di bagian belakang disebut pintu dapur atau pintu belakang. Pintu yang ada di ruangan tengah pada rumah yang berbilik, pintu yang menghubungkan bilik dengan bilik disebut pintu malim atau pintu curi. Pintu ini khusus untuk keluarga perempuan terdekat atau untuk anak gadis, dan dibuat terutama untuk menjaga supaya jika penghuni rumah memiliki keperluan dari satu bilik ke bilik lainnya tidak melewati ruangan tengah. Apalagi bila di ruangan tersebut sedang ada tamu.
Sudah menjadi adat, bahwa ruangan tengah dipergunakan untuk menerima tamu yang terdiri dari orang tua-tua, atau kerabat terdekat yang dihormati. Amatlah tabu kalau anak-anak, terutama anak gadis, atau pemilik rumah lalu lalang di depan tamu untuk mengambil sesuatu dari biliknya.
Untuk menghindarkan hal yang dilarang tersebut, maka dibuat pintu khusus yang disebut pintu malim atau pintu curi. Di samping itu ada pula pintu yang dibuat khusus disebut Pintu Bulak, yaitu pintu yang tidak memiliki tangga keluar. Pada prinsipnya pintu ini sama seperti jendela, hanya ukurannya yang berbeda. Biasanya bagian bawah pintu ini diberi pagar pengaman berupa kisi-kisi bubut atau papan tebuk. Di situ diletakkan kursi malas, yakni kursi goyang, tempat orang tua duduk berangin-angin. Dari tempat orang tua-tua itu memperhatikan anak-anak bermain di halaman. Di situ pulalah orang tua-tua duduk sambil membaca kitab dan minum kahwa (kopi).
Pintu berbentuk persegi empat panjang. Ukuran pintu umumnya lebar antara 60 sampai 100 Cm, tinggi 1,50 sampai 2 Meter. Pada mulanya pintu tidak memakai engsel. Untuk membuka dan menutup pintu dipergunakan semacam Putting yang ditanamkan ke bendul atau balok sebelah bawah dan balok sebelah atas pintu. Kunci dibuat dari kayu yang disebut Pengkelang. Pintu masuk ke rumah harus mengarah ke jalan umum.
Pintu dapat terdiri atas satu atau dua daun pintu. Pintu dikunci memakai belah pintu atau Pengkelang (palang pintu dari sebelah dalam). Belah pintu adalah sebatang Broti yang dipalangkan pada kedua Jenang atau kosen pintu.
Pintu sebaiknya terletak di kiri rumah atau dekat ke bagian kiri rumah. Di atas pintu kebanyakan dibuat tebukan yang indah bentuknya menunjukkan ketinggian martabat di empunya rumah.
5. JENDELA
Jendela lazim disebut Tingkap atau Pelinguk. Bentuknya sama seperti bentuk pintu. Tetapi ukurannya lebih kecil dan lebih rendah. Daun jendela dapat terdiri atas dua atau satu lembar daun jendela. Hiasan pada jendela dan pagar selasar disebut juga Kisi-kisi atau Jerajak. Kalau bentuknya bulat disebut Pinang-pinang atau Larik. Bila pipih disebut Papan Tebuk. Hiasan ini melambangkan bahwa pemilik bangunan adalah orang yang tahu adat dan tahu diri.
Ketinggian letak jendela di dalam sebuah rumah tidak selalu sama. Perbedaan ketinggian ini adakalanya disebabkan oleh perbedaan ketinggian lantai. Ada pula yang berkaitan dengan adat istiadat. Umumnya jendela tengah di rumah induk lebih tinggi dari jendela lainnya. Tingkap pada singap disebut tingkap bertongkat. Tingkap ini merupakan jendela anak dara yang lazimnya berada di ruangan atas (para).
Tingkap yang terletak pada bubungan dapur disebut Angkap. Jendela dibuka keluar, ada yang berdaun satu dan kebanyakan berdaun dua. Jendela dibuat dari papan dan digantung dengan engsel pada kosen. Pada kosen ini dipasang kisi-kisi atau Telai yang tingginya 80—9- Cm, dan biasanya diberi ukiran.
Jendela mengandung makna tertentu pula. Jendela yang sengaja dibuat setinggi orang dewasa berdiri dari lantai, melambangkan bahwa pemilik bangunan adalah orang baik-baik dan patut-patut dan tahu adat tradisinya. Sedangkan letak yang rendah melambangkan pemilik bangunan adalah orang yang ramah tamah, selalu menerima tamu dengan ikhlas dan terbuka.
Sama seperti pintu, jendela pun pada awalnya tidak memakai engsel. Tetapi mempergunakan Putting. Kuncinya juga dibuat dari kayu yang disebut Pengkelang. Sebagai pengaman, di jendela dipasang jerajak panjang yang disebut Kisi-kisi atau Jerajak yang terbuat dari kayu segi empat atau Bubutan (Larik). Kalau jendela itu tidak memakai jerajak, biasa pula diberi panel di sebelah bawahnya, yang tingginya antara 30 sampai 40 Cm.
6. TANGGA
Tangga naik ke rumah pada umumnya menghadap ke jalan umum. Tiang tangga berbentuk segi empat atau bulat. Kaki tangga terhunjam ke dalam tanah atau diberi alas dengan benda keras. Bagian atas disandarkan miring ke ambang pintu dan terletak di atas bendul. Anak tangga dapat berbentuk bulat atau pipih. Anak tangga kebanyakan berjumlah ganjil. Sebab menurut kepercayaan, bilangan genap kurang baik artinya. Tangga depan selalu berada di bawah atap dan terletak pada pintu serambi muka atau selang muka. Tangga penghubung setiap ruangan terdiri atas satu atau tiga buah anak tangga.
Di sebelah kiri dan kanan tangga ada kalanya diberi tangan tangga yang dipasang sejajar dengan tiang tangga. Dan selalu diberi hiasan berupa Kisi-kisi Larik (Bubut) atau Papan Tebuk (Papan Tembus). Anak tangga adakalanya diikat dengan tali kepada tiang tangga. Tetapi kalau pipih dipahatkan (Purus) ke dalam tiang tangga. Tali pengikat umumnya terbuat dari rotan.
Jumlah anak tangga tidak ditentukan. Tetapi bergantung kepada tinggi atau rendahnya rumah tersebut. Semakin tinggi rumah itu, akan semakin banyak pula anak tangganya. Sedangkan jarak antara anak tangga-anak tangga itu tidak pula ditentukan, hanya menurut kebiasan yakni sekitar satu hasta. Lazimnya tangga yang mengandung lambing tertentu hanya tangga muka bangunan. Tangga inilah yang disebut leher berpangkak pada bendul, kepala bersandar ke jenang pintu, anak bersusun tingkat bertingkat, tempat pusaka melangkah turun, tempat mengisik-ngisik debu dan tempat membasuh-basuh kaki.
Dalam bangunan tradisional Melayu, terdapat dua jenis tangga, yakni tangga bulat dan tangga picak tangga bulat yakni tangga dari kayu bulat. Anak tangganya diikat dengan rotan ke induk tangga. Susunan anak tangga, cara mengikat tali tangga dan bagian-bagian induk tangga mengandung makna tertentu.
Tangga picak adalah tangga pipih yang terbuat dari papan tebal. Jika anak tangga menembus tiang tangga, maka disebut Pahatan Tebuk atau Tangga Bercekam. Kepala tiang tangga selalu diberi ukiran yang disebut Kumaian, demikian pula pada sisi tiang tangga.
7. LANTAI
Lantai rumah induk umumnya diketam rapi dengan ukuran lebar antara 20 sampai 30 Cm. untuk merawat lantai dipergunakan minyak kayu yang disebut Minyak Kuing. Lantai biasanya dibuat dari papan kayu meranti, medang atau punak atau anak-anak kayu yang disebut Anak Laras. Lantai yang terbuat dari belahan nibung biasanya ditempatkan di ruang belakang, atau di tempat yang selalu kena air, seperti dapur. Lantai nibung ini tidak dipaku, tetapi dijalin dengan rotan dan lebarnya antara 5 sampai 10 Cm. Susunan lantai sejajar dengan rasuk dan melintang di atas gelagar, di mana ujungnya dibatasi oleh bendul.
Cara merapatkan papan atau bilah lantai dalam sebuah rumah tidak selalu sama. Lantai di rumah induk selalu disusun rapat. Bahkan diberi lidah yang disebut Pian. Sedangkan di ruangan Dapur, di beberapa tempat disusun jarang atau agak jarang. Selain dirapatkan dengan cara Pian, bilah lantai dapat dirapatkan dengan cara Bersanding. Setiap bentuk itu mempunyai makna tertentu.
Tinggi lantai rumah Melayu tidak sama. Lantai rumah induk lebih tinggi dibandingkan dengan lantai beranda depan dan beranda belakang. Lantai beranda lebih tinggi dari lantai selasar. Lantai selasar lebih tinggi dari lantai dapur. Ada kalanya sama dengan lantai Penanggah. Tinggi lantai rumah induk biasanya lima sampai enam kaki dari permukaan tanah. Lantai serambi depan lebih rendah satu kaki dari lantai ruang duduk. Demikian pula beranda belakang. Lantai dapur lebih rendah lagi dari lantai beranda belakang dan yang paling rendah adalah lantai Selang atau Pelataran. Lantai selang dibuat jarang berjarak sekitar dua jari dengan lebar papan empat inci.
8. DINDING
Papan dinding dipasang vertical. Kalau pun ada yang dipasang miring atau bersilangan, pemasangan tersebut hanya untuk variasi. Cara memasang dinding umumnya dirapatkan dengan Lidah Pian. Atau dengan susunan bertindih yang disebut Tindih Kasih. Cara lain adalah dengan pasangan horizontal dan saling menindih yang disebut Susun Sirih. Namun cara ini jarang dipakai. Untuk variasi sering pula dipasang miring searah atau miring berlawanan, dengan kemirinan rata-rata 45 derajat.
Pada umumnya dinding terbuat dari kayu meranti, punak, medang atau kulim. Tetapi untuk dinding dapur, ada kalanya dipergunakan kulit kayu meranti, pelepah rumbia atau bamboo. Papan dinding umumnya berukuran tebal 2—5 Cm, lebar 15—20 Cm. sedangkan panjangnya bergantung kepada tinggi jenang. Makna dinding selalu dikaitkan dengan sopan santun, yakni sebagai batas kesopanan.
Dinding rumah dibuat dari papan yang dipasang vertical dan dijepit dengan kayu penutup (dinding kembung). Kira-kira 20 Cm di bawah tutup tiang biasanya dibuat lubang angin. Pada lubang angin ini diberi hiasan dengan tebukan. Makin tinggi nilai tebukan ini, makin tinggilah martabat serta makin terpandang se empunya rumah
9. LOTENG
Dalam bahasa Melayu, Loteng disebut Langa. Loteng yang terletak di atas bagian belakang rumah, disebut Para. Namun tidak banyak rumah yang memiliki loteng. Pada rumah berloteng, lantai loteng dibuat dari papan yang disusun rapat.
Sama seperti rumah induk, hanya ukran lantai loteng lebih kecil dan lebih tipis. Pada rumah yang tidak berloteng, dalam upacara tertentu atas (loteng) ditutup dengan kain penutup yang disebut Langit-langit. Kain ini dibuat dari perca-perca kain aneka warna, dan dijahit menjadi sebuah bidang besar menurut pola tertentu. Loteng di bagian belakang (para) dibuat dalam bentuk yang sangat sederhana, dengan lantai papan yang disusun jarang.
Banyak pula loteng yang dibuat tidak menutup seluruh bagian atas ruangan. Tetapi hanya sebagian saja, berbentuk siku-siku atau berbentuk huruf L. loteng tidak seluruhnya berdinding. Pada bagian yang tidak berdinding dipasang hiasan kisi-kisi yang terbuat dari kayu bubutan atau Papan Tebuk.(*)
PENUTUP
Pada arsitektur tradisional Melayu terkandung nilai budaya yang tinggi. Hal ini terlihat dari bentuk bubungan yang tidak lurus. Tetapi agak mencuat ke kanan dan ke kiri. Dapat disimpulkan bahwa para ahli pembuat rumah Melayu zaman dahulu telah memikirkan faktor keindahan pada bubungan rumah yang mereka diami. Model Gajah Minum pada bubungan atap dapur diasosiasikan sebagai belalai gajah yang mencuat ke atas. Perumpamaan ini dipilih dengan anggapan bahwa gajah adalah binatang yang kuat, agung dan disegani.
Letak rumah Melayu pada zaman dahulu menghadap kea rah matahari terbit. Ini berarti mengharapkan berkah dan rahmat seperti halnya matahari pagi yang bersinar cerah. Tulang rabung tidak boleh dibuat hanya dari sebatang kayu utuh. Tetapi harus dibuat bersambung pada pertengahannya. Hal ini merupakan symbol tenggang rasa bagi pemilik rumah. Untuk mencari sebatang kayu yang cuku panjang serta sama besarnya dari pangkal ke ujung agak sulit. Maka cukup dipakai dua batang kayu yang agak pendek, sama besar dan kuat. Inilah simbol tenggang rasa bagi pemilik rumah.
Pemasangan kayu kasau tidak boleh terbalik, yaitu ujung kayu harus terletak di atas dan pangkal kayu terletak di bawah. Hal ini menunjukkan sistematika dan kerapian. Susunan ini juga sebagai lambing perkembangan dan pertumbuhan. Jika peletakannya terbalik, berarti perkembangan pemilik rumah akan terhambat dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Kamar anak gadis terletak di para-para (Loteng), dengan jalan masuk dan keluarnya dari ruang tengah. Hal ini untuk menjaga keselamatan dan kehormatan, serta harga diri keluarga. Untuk menjumpai sang gadis tidak mudah. Dan kedua orang tua selalu mengawasi tindak tanduk anak gadisnya. Kehormatan keluarga dilihat dari tingkah laku keluarga tersebut, baik dalam mendidik anaknya maupun perilaku anak itu sendiri di tengah masyarakat.
Dari segi keindahan, terlihat adanya ragam hias yang bermacam-macam bentuk dan coraknya, sehingga menunjukkan tingginya kebudayaan ukiran tradisional Melayu. Demikian pula dengan susunan ruangan. Terlihat adanya tingkatan penghormatan terhadap para temu yang datang. Tempat menerima tamu pria dan wanita dibedakan. Serambi depan untuk tamu pria dan serambi belakang untuk tamu wanita.
Rumah tradisional Melayu yang berbentuk rumah panggung selain untuk menjaga keselamatan penghuni dar ancaman binatang buas, juga dimaksudkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan pemilik rumah. Banyaknya jendela dan lubang angin menjamin kesegaran dan kenyamanan orang yang menempati rumah. Rumah serta letak jendela dan pintu yang tinggi membuat kedatangan tamu ataupun ancaman telah tampak dari jauh. Sehingga persiapan penyambutan dapat dilakukan dengan baik.
Orang Melayu yang telah merantau jauh dari tanah kelahirannya, dan ingin membangun rumah di tempat mereka tinggal sekarang, mungkin tidak cocok lagi dengan rumah tradisional Melayu seperti yang dibangun nenek moyang mereka dahulu. Kemajuan teknologi, tingkat pendidikan dan wawasan, tingkat social-ekonomi, serta tempat tingal atau domisili berpengaruh terhadap konsep, selera, serta kebutuhan orang Melayu tentang rumah. Hal ini tercermin pada cara pembuatan, pemilihan bahan, sekaligus bentuk dan fungsi rumah Melayu.
Pada proses pembangunan rumah, peranlain sebagainya dengan mantra-mantra yang bernuansa mistis dan animis tidak lagi dipandang perlu. Demikian juga halnya dengan perhitungan waktu, arah, serta lokasi rumah. Dengan alasan kepraktisan, upacara-upacara tidak lagi dilaksanakan. Musyawarah juga tidak lagi menjadi syarat, terutama bagi orang-orang Melayu yang tinggal di perkotaan. Pola hidup masyarakat kota yang sibuk dan cendrung individualistis menyebabkan pembangunan sebuah rumah menjadi persoalan pribadi sebuah keluarga. Bukan lagi persoalan masyarakat.
Bentuk dan fungsi rumah pun berubah. Rumah tidak lagi harus berupa rumah panggung, karena dengan pemakaian lantai keramik, bentuk rumah panggung mengharuskan lantai dicor beton. Dan ini mengakibatkan biaya pembuatannya menjadi mahal. Lagi pula, ruang kosong di bawah lantai pada rumah panggung kurang efisien dari segi fungsi. Tujuan semula pemilihan bentuk rumah panggung pada rumah tradisional, yaitu untuk mengantisipasi banjir dan pasang surut di daerah pantai, atau sebagai tempat orang bekerja, tidak lagi sesuai dengan situasi dan kondisi rumah di perkotaan. Sikap hidup orang modern yang lebih mengutamakan privacy juga membuat rumah tidak lagi berupa ruang-ruang terbuka yang mencerminkan masyarakat komunal. Kamar tidur menjadi kebutuhan pokok setiap anggota keluarga, selain ruang-ruang public yang memang dirancang untuk keperluan komunikasi social.
Paradoks dengan konsep rumah modern yang merupakan kebutuhan individu keluarga, rumah Melayu modern tidak harus dipisah-pisahkan fungsinya sebagaimana rumah tradisional yang dibedakan menjadi rumah kediaman, rumah ibadah, rumah balai, dan tempat penyimpanan. Rumah kediaman modern dapat saja berfungsi sekaligus sebagai rumah balai, rumah ibadah dan tempat penyimpanan. Konsep kerja kantoran yang tidak dijumpai pada masyarakat Melayu tradisional, sekarang menjadi pola hidup sebagian orang Melayu modern. Kegiatan kerja dapat ditampung sekaligus pada sebuah rumah kediaman atau rumah ibadah. Fungsi-fungsi social lain seperti perpustakaan, tempat penelitian, kajian, pengembangan budaya dan ilmu, juga dapat ditampung di rumah kediaman. Dalam hal ini rumah kediaman berfungsi sekaligus sebagai rumah balai, di mana kegiatan di rumah balai tidak hanya musyawarah anggota masyarakat untuk memutuskan sesuatu, tetapi lebih luas dan beragam. (sumer tulisan : syafarudin,pontianak)

Satu Tanggapan to “FILOSOFI RUMAH MELAYU”

  1. Mohon izin untuk mengkopi tulisan-tulisan yang berkaitan dengan sumber daya Kalbar yang selanjutnya dipublikasikan di situs kami untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pelestarian budaya.
    Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: