SEJARAH KERAJAAN TANJUNGPURA

Posted in Uncategorized with tags , on Maret 19, 2009 by studiomelayu

Sejarah Kerajaan Tanjungpura
Disadur dari tulisan M.Natsir,S.Sos.,M.Si
Kerajaan Tanjungpura yang terdapat di Kalimantan Barat, berkaitan dengan kerajaan yang ada di Jawa, disebutkan pula di Jawa terdapat dua agama yaitu hindu dan budha. Selanjutnya disebutkan bahwa Kerajaan Jawa pada saat itu mempunyai daerah bawahan meliputi : Pai Hua Yuan (pacitan), Ma Tung (Medang), Tan Pel (Tumapel), Hi Ning (Dieng), Jung La Yu (ujung galuh), Tung Ki (Papua), Ta Kang (sumba), Huang Ma Chu (papua Barat), Tan Jung Ho (Tanjungpura), Ti Wu (Timor), Ping Yai (Baggai, Sulawesi) dan Wu Nu Ku (Maluku).
Pengaruh Kerajaan Jenggala-Kediri ini kemudian berlangsung terus hingga kemudian pada tahun 1284 M dimana Kerajaan Tanjungpura kemudian ditaklukkan oleh kerajaan Jawa yang lain yaitu Kerajaan Singasari yang juga berpusat di Jawa Timur. Penaklukan Kerajaan Tanjungpura ini lewat ekspedisi Pamalayu yang dimulai dari tahun 1275 M hingga 1290 M. Sejak itu Kerajaan Tanjungpura beralih menjadi dibawah pengaruh dari Kerajaan Singasari. Wilayah taklukkan Kerajaan Singasari di Borneo pada waktu itu membentang dari Kerajaan Tanjungpura hingga Kerajaan Banjarmasin.
Raja di Kerajaan Tanjungpura disebutkan bahwa Prabu Jaya kawin dengan Ratu Junjung Buih menjadi Raja di Tanjungpura yaitu pada tahun 1450 M. Hal ini sesuai dengan tradisi lisan yang berkembang pada masyarakat ketapang yang menyebutkan bahwa seorang anak Raja Majapahit yang bernama Prabu Jaya kawin dengan Ratu Junjung buih. Dari perkawinan itu maka Prabu Jaya kemudian menjadi Raja di Kerajaan Tanjungpura ini.
Dalam perkawinan ini keduanya telah diberkati tiga orang putera
1. Pangeran Perabu yang bergelar Raja Baparung, diangkat sebagai pendiri kota kerajaan di Sukadana
2. Gusti Likar diangkat dan mendirikan kerajaan di Meliau
3. Pangeran Mancar diangkat menjadi kepala daerah di kerajaan Tayan.
Sementara mengenai nama Tanjungpura sendiri ada beberapa versi. Menurut A. Chalik Hasan pemberian nama Tanjungpura karena letak dari ibukota kerajaan itu di Tanjung Tikungan Sungai Pawan. Sedangkan Tanjung itu merupakan pintu gerbang dari kerajaan ini. Pendapat JU.Lontaan menyatakan bahwa setelah meningalnya raja Baparung, naiklah menjadi raja puteranya yang bernama Karang Tanjung. Raja Karang Tanjung mempunyai kesenangan tidur-tiduran di atas daun bunga Tanjung. Menurut cerita rakyat putra mahkota tersebut mempunyai kesaktian, sehingga daun yang kecil-kecil tersebut bisa di tiduri. Maka oleh rakyat dijuluki Karang Tanjung. Rakyat sangat mengagumi raja Karang Tanjung hingga kemudian kerajaan yang diperintahnya menjadi kerajaan Tanjung yang lama-kelamaan menjadi kerajaan Tanjungpura.
Peninggalan Kerajaan Tanjungpura di Kabupaten Ketapang
Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Propinsi Kalimantan Barat. Sungai terpanjang sungai Pawan yang menghubungkan Kota Ketapang
Kabupaten Ketapang merupakan salah satu daerah kerajaan Tanjungpura di Kalimantan Barat. Kejayaan kerajaan Tanjungpura pada abad ke XIV.Nama
a. Keraton Muliakarta (Gusti Muhammad Saunan)
Negeri Baru kerajaan Tanjungpura berpindah ke Sukadana, kemudian ke Sungai Matan. Masa Raja Muhammad Zainudin sekitar tahun 1637 pindah ke Indra Laya, Sungai Pawan (kec Sandai), pindah ke Karta Pura, Tanah Merah (kec, Naga Tayab), ke desa Tanjungpura (Muliakarta) Keraton ini berfungsi juga sebagai museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah peninggalan raja-raja Matan
b. Komplek Makam Raja-Raja Matan
• Makam penembahan G.H.M. Sabran
• Makam Pangeran Laksamana Matan
• Makam Pangeran Ratu Mohd.Anom
c. Makam Keramat Tujuh Dan Keramat Sembilan
Pada nisan Keramat Tujuh tertulis tahun 1363 saka atau 1441 Masehi. Nisan terbuat dari batu Andesit bertuliskan huruf Arab, dapat dipastikan makam seorang muslim. Tim Arkeologi Banjarmasin sudah melakukan penelitian di Kaltim, Kalsel,Kalteng maupun Kalbar. Nisan batu andesit di temukan di Jawa dan untuk yang pertama di Kalimantan adalah di Ketapang dari bentuk nisan tersebut diperkirakan pada abad terakhir Majapahit.
d. Makam Tanjungpura, 35 km dari Kota Ketapang
Makan para raja-raja Matan dari kerajaan Tanjungpura

BENTUK, SUSUNAN, DAN POLA RUANG ARSITEKTUR MELAYU KALIMANTAN BARAT

Posted in arsitektur,rumah melayu on Maret 18, 2009 by studiomelayu

BENTUK, SUSUNAN, DAN POLA RUANG ARSITEKTUR

MELAYU KALIMANTAN BARAT

Oleh : Irwin Ramsyah,ST

Arsitektur Melayu yang ada di Kalimantan Barat memiliki beragam keunikan dan kekhasan yang masih terus harus di gali kekayaannya sebagai bukti keberagaman budaya bangsa,khususnya Melayu. Hampir semua rumah Melayu yang tersebar di Asia tenggara memiliki banyak persamaan dan perbedaan. Keberagaman dan perbedaan tersebut justru membawa keunikan dan membawa ciri khas masing masing daerah mengenai keberagaman masyarakat Melayu. Melayu Kalimantan Barat juga kaya akan keberagaman tersebut. Dalam tulisan ini, penulis ingin mengangkat rumah Melayu dari sudut pandang bentuk,susunan,dan pola ruang rumah Melayu yang ada di Kalimantan Barat sebagai bagian dari penambahan khasanah budaya Melayu.

Pendahuluan

Arsitektur merupakan salah satu produk dari kebudayaan. Arsitektur dari suatu bangsa, suku bangsa,masyarakat, daerah pada suatu masa seringkali berbeda-beda, baik dalam hal bentuk maupun konsep-konsep yang melandasinya. Banyak faktor Yang menyebabkan perbedaan ini antara lain adalah kebudayaan masyarakat atau bangsa

itu sendiri.Dari masa ke masa terlihat bahwa semakin lama manusia semakin memerlukan identitas. Identitas ini ditujukan bagi dirinya maupun benda-benda yang ada di sekelilingnya. Di bidang arsitektur, manusia menciptakan berbagai bentuk, simbol serta konsep-sonsep bangunan yang beragam yang antara lain adalah untuk memenuhi kebutuhan akan identitas tadi. Mengenai identitas arsitektur, sebenarnya masih merupakan Polemik yang tak kunjung habisnya. Mungkin dalam pencarian identitas tersebut memang tidak akan pernah dicapai kata akhir dikarenakan sifat dari arsitektur (kebudayaan) itu sendiri yang selalu berubah dan berkembang. Di Indonesia, jati diri arsitektur masih dalam tahap penelitian dan merupakan hal yang sering dipermasalahkan. Demikian pula jati diri arsitektur di daerah-daerah, masih perlu dipertanyakan. Tidaklah mudah mengemukakan suatu jawaban mengenai bentuk arsitektur yang berciri khas. Tetapi paling tidak diperlukan upaya-upaya menggali dan mengkaji konsep-konsep dan proses merancang yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan karya arsitektur yang secara utuh memiliki ciri sebagai karya arsitektur Indonesia atau pun arsitektur daerah. Merancang suatu bangunan yang dikehendaki dapat mewakili bentuk atau ciri daerah, misalnya pada gedung pemerintah, haruslah memandang budaya (adat) dan arsitektur setempat. Ini dapat dicapai dengan menggali sebanyak mungkin unsur-unsur yang membentuk ciri daerah tersebut.Pada tulisan ini kami mencoba mengemukakan bebera pa permasalahan, meneliti serta menggali beberapa konsep perancangan arsitektur tradisional di daerah Kalimantan Barat (Kalbar). Konsep-konsep tersebut selanjutnya diolah dan digabungkan dengan konsep-konsep arsitektur moderen. Konsep-konsep ini nantinya akan menjadi landasan konsepsual perencanaan dan perancangan gedung gedung pemerintah atau bangunan lainnya di Kalimantan Barat.

Pembahasan
Sejarah Kalimantan Barat pada umumnya berlatar ceritera rakyat. Hal ini terjadi karena sukar sekali mendapatkan tulisan-tulisan autentik konkrit. Namun ceritera rakyat bukan berarti tidak penting, sebab bersumber darl mereka yang benar benar mengalamlnya. Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat berawal dari kedatangan Prabu Jaya, anak Brawijaya dari Jawa, yang mengawini Junjung Buih. Dari perkawinan tersebut kemudian menurunkan raja-raja yang memerintah kerajaan dan sering berpindah-pindah lokasi serta berganti nama. Kerajaan yang ia dirikan pertama kali dimulai di Kuala Kandang Kerbau (Kabupaten Ketapang). Kerajaan ini terus berkembang dan terpecah-pecah. Salah satu kerajaan tertua dan yang terkenal saat itu adalah kerajaan Tanjungpura. Nama Tanjungpura kemudian diganti menjadi kerajaan Matan oleh Panembahan Busrah yang telah memin dahkan ibu kota pemerintahannya dari Tanjungpura Kerta Mulia.
Adapun kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Kalimantan Barat dan tersebar di beberapa daerah pedalaman antara lain adalah : Tanjungpura, Sukadana,Simpang, Matan, Mempawah, Sambas, Landak, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kubu, Pontianak. Beberapa peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut seperti Keraton, Mesjid, Bangunan Musayawarah, rumah tinggal dan sebagainya masih utuh sampai saat ini.

Bentuk-bentuk bangunan di Kalbar pada umumnya dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu: kepala, badan dan kaki. Atap dapat dianalogikan sebagai kepala, dinding atau badan bangunan sebagai badan, dan pondasi konstruksi panggung merupakan kaki. Perkembangan arsitektur di Kalimantan Barat sangat lambat. Bentuk-bentuk arsitektur di sana umumnya banyak dipengaruhi bentuk-bentuk dari luar dan merupakan campuran dari berbagai arsitektur bangunan Melayu, Cina dan Arab. Karakteristik hidup berdampingan secara akrab dan karakteristik lingkungan alam di sekitarnya terungkap pada pola perkampungan yang mengelompok padat memanjang sejajar atau tegak lurus arus sungai dan ada pula yang menyebar sepanjang jalan serta penggunaan bahan bangunan yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan kayu. Dalam membedah rumah melayu, penulis mengupasnya dari sudut pandang yang mengacu kepada susunan bentuk ruang dan tampak, yang mengidentifikasikan dalam beberapa hal berikut :

a) Pola perkampungan dan Gubahan Massa
Pola perkampungan suku Melayu ada yang mengelompok padat, memanjang sejajar sisi sungai dan ada pula yang menyebar sepanjang jalan. Kampung suku Melayu ini biasanya tidak dibatasi oleh suatu tanda khusus seperti tembok, pagar, tiarlg atau lainnya. Pola perkampungan di Kalbar sangat erat hubungannya dengan mata pencaharian penduduk. Umumnya penduduk di daerah ini mempunyai mata pencaharian yang bermacam-macam seperti bertani, menangkap ikan, menoreh getah, dan lain-lain. Oleh sebab itu pola perkampungan bagi nelayan berbeda dengan pola perkampungan petani. Untuk nelayan yang pekerjaaannya menangkap ikan di laut, mereka umumnya bertempat tinggal secara berkelompok di suatu daerah pantai ataupun muara sungai. Sedangkan bagi petani(petani padi, petani kelapa, petani getah) biasanya mendirikan rumah tinggalnya dekat dengan tempat mereka bekerja. Mereka mendirikan rumah di salah satu bagian kebun atau ladangnya.Maka dari itu pola perkampungannya bagi para petani ini secara bertebaran dan meluas, sedangkan bagi nelayan secara berkelompok.Pada masyarakat suku Melayu Kalbar dikenal beberapa jenis bangunan antara lain : rumah tinggal dengan berbagai type yaitu rumah kantor kawat, rumah potong godang dan rumah pondok Limas, kemudian rumah ibadah ( masjid ), rumah tempat musyawarah dan rumah tempat menyimpan.
Bangunan Keraton peninggalan kerajaan-kerajaan Melayu di Kalbar, umumnya berpola memusat, dengan istana raja sebagai pusatnya. Bangunan-bangunan keraton ini umumnya berukuran relatif besar, dehgan bangunan-bangunan pendukurig berada di sekelilingnya. Pada sekeliling Keraton jarang ditemui pagar yang mengelilingi seluruh kompleks bangunan. Pagar misalnya hanya ditemui pada bagian depan halaman keraton berupa pagar kayu atau pagar tanaman. Di depan Keraton terdapat tanah lapang yang digunakan untuk berbagai kegiatan. Keraton di Kalbar umumnya terletak di tepi sungai besar.
Hal ini berkenaan dengan fungsi sungai sebagai sarana transportasi jaman dahulu. Pada perkampungan atau kota di pinggir sungai ini biasanya memiliki dermaga sebagai tempat berlabuhnya perahu-perahu penduduk. Bentuk bangunan umumnya simetris, dengari Entrance bangunan yang cukup menonjol. Pada beberapa Kraton dilengkapi bangunan menara yang berfungsi sebagai tempat pengawasan. Beberapa dari keraton tersebut dilengkapi dengan serambi atas sebagai ruang duduk-duduk. Fasilitas-fasilitas sosial sperti bidang-ekonomi, pendidikan, kesehatan, olahraga, kesenian, hiburan maupun keagamaan terletak atau berlokasi tidak mengikuti suatu aturan khusus seperti di utara atau diselatan atau di pinggir sungai. Namun biasanya terletak di dekat keramaian

b) Orientasi, Orientasi dan Entrance
Umumnya masyarakat di Kalbar tidak begitu mempersoalkan arahnya pendirian sebuah bangunan. Selain dari menggunakan arah berdasarkan mata angin. Masyarakat biasanya lebih suka menggunakan nama-nama arah seperti hilir, hulu, ke muara, ke pantai, ke darat, ke seberang dan lain-lainnya. Selain itu umumnya seseorang mendirikan rumah tempat tinggal berderet-deret menghadap jalan ataupun berderet-deret menghadap arah memanjangnya tepi sungai. Jalan-jalan di daerah ini biasanya dibuat sejajar atau tegak lurus sungai. Sedangkan arah sungai atau pun jalan itu sendiri tidak menentu. Walaupun tidak ada suatu ketentuan mengenai arah bangunan ini. masyarakat setempat mempunyai suatu harapan. bahwa rumah tempat tinggal sebaiknya menghadap arah matahari terbit. Bila arah ini tidak mungkin. diusahakan arah rumah tersebut memungkinkan adanya sinar matahari masuk ke dalam ruangan. seperti ruangan tamu kamar tidur dan lain-lain.
Pola-pola sirkulasi pada arsitektur tradisional relatif masih sederhana. Hal ini disebabkan antara lain oleh jenis kegiatan yang masih sediki£. Pola-pola sirkulasi umumnya berbentuk linear dan terbuka. Pola sirkulasi pada keraton umunya berbentuk lurus, tegak lurus jalan, dan tegak lurus sungai, bersifat formal. Jalan tanah, jalan kayu sebagai tempat bersirkulasi berbentuk datar. Pada bagian pinggir sungai atau daerah yang sering terkena banjir jalan-jalan menggunakan konstruksi panggung. Jembatan kayu terdapat pada jalur sirkulasi yang melalui parit-parit. Pada Keraton Kerjaan Mempawah, akses menuju bangunan berpola lurus dan dikiri kanan jalan didirikan tiang-tiang pendek berukir berfungsi untuk mempertegas jalur pencapaian. Sirkulasi umumnya berupa jalantanah yang diperkeras, jalan rumput, dan jalan kayu.

c) Sumbu Simetri Hirarkhi dan Perulangan Sumbu Sumbu
Sumbu terbentuk oleh dua buah titik di dalm ruang dan terhadapnya bentuk-bentuk dan ruang-ruang dapat disusun menurut cara-cara yang teratur ataupun tidak teratur. Sumbu harus berbentuk linear dan diakhiri pada kedua ujungnya. Pada arsitektur tradisional penggunaan sumbu sebagai sarana untuk mengorganisir bentuk dapat terlihat pada bentuk-bentuk bangunan yang simetris. Pada beberapa bangunan sumbu dipertegas dengan penggunaan menara dan tiang-tiang vertikal serta susunan elemen- elemen arsitektural lainnya. Pola-pola sirkulasi dan bangunan kadangkala membentuk satu garis lurus yang menegaskan adanya sumbu.

Simetri
Suatu komposisi arsitektur tradisional dapat memanfaatkan simetri untuk mengorganisasi bentuk bentuk dan ruang ruangnya dalam dua cara, yaitu seluruh organisasi bangunan dapat dibuat simetri atau suatu kondisi simetris dapat terjadi hanya pada bagian tertentu dari bangunan dan mengorganisir suatu pola tak teratur dari bentuk bentuk dan ruang ruang ruang terhadapnya.Walaupun masih sederhana, tisak semua bangunan arsitektur tradisional di Kalbar berbentuk simetris tetapi ada juga yang berbentuk asimetris. Pada umumnya bentuk bangunan ini dikategorikan memiliki simetri bilateral, yaitu suatu susunan yang seimbang dari unsur- unsur yang sama terhadap suatu sumbu yang sama. Pola -pola simetri radial seringkali ditemukan pada ornamen -ornamen ( hiasan ) yang berpola geometrik .

Hirarkhi
Hirarkhi mengacu kepada pengertian perbedaan-perbedaan dan derajat kepen tingan dari bentuk-bentuk dan ruang-ruang dan peran-peran fungsional, formal dan simbolis yang dimainkan di dalam organisasinya .Hirarkhi pada arsitektur tradisional Kalbar dapat ditemui pada penggunaan ukuran yang luar biasa, bentuk bentuk unik dan lokasi strategis

Perulangan
Perulangan bentuk pada arsitektur tradisional Kalbar nyata terlihat pada konsep rumah adat melayu terdapat pada bentuk bentuk jendela ynag memiliki perulangan sama. Bentuk-bentuk perulangan lainnya ditemukan pada bentuk-bentuk tiang-tiang, bentuk-bentuk atap dan lain-lainnya.

d. Proporsi dan Skala
Sistem proporsi pada bangunan arsitektur tradisional Kalbar umumnya dapat dikelompokkan pada penggunaan proporsi anthromorpis, yaitu yang didasarkan pada dimensi-dimensi proporsi-proporsi tubuh manusia. Sistem proporsi yang ada di sana umumnya banyak ditentukan oleh dimensi-dimensi kayu komponen struktur/konstruksi. Pada bangunan kraton biasanya menggunakan skala monumental. Sedangkan bangunan rumah-rumah adat menggunakan skala manusia.

e. Sistem Struktur
Prinsip sistem struktur pada umumnya berupa penyaluran beban atap ke satu kolom atau disebarkan ke susunan kolom-kolom yang selanjutnya disalurkan ke pondasi paku bumi (tiang pancang) ke tanah. Jadi sistem struktur disana umumnya menggunakan sistem rangka kayu dengan dinding-dinding kayu sebagai panil dan pengaku struktur. Penggunaan pondasi tiang pancang/paku bumi mengandalkan tegangan gesek pada tanah. Pondasi ini umumnya tinggi membentuk sistem panggung. Oleh karena itu bangunan menjadi berkesan ringan yang seolah-olah melayang dari permukaan tanah.Pada sistem panggung ini ada beberapa macam type dan penyelesaian, antara lain : type panggung tinggi, dan type panggung rendah; type tertutup dan type terbuka. Pada konstruksi dinding atau beberapa bagian bagunan menggunakan susunan silang diagonal. Bentuk- bentuk seperti ini selain mempurlyai peran arsitektural juga struktural. yaitu menambah kekakuan struktur. Demikian pula pada susunan papan untuk dinding maupun lantai. disesuaikan dengan jarak antara kolom atau antara balok membentuk susunan vertikal atau horizontal.

f. Konstruksi Bangunan
Konstruksi bangunan hampir semuanya menggunakan konstruksi kayu. Dalam perkembangannya penggunaan papap papan untuk lantai dan dinding mulai digantikan dengan bahan bahan moderen seperti ubin keramik, ubin semen, dinding beton, dinding batako. Demikian pula pada atap semula menggunakan atap daun dan sirap, kemudian mulai digantikan dengan atap seng, asbes, genteng beton, dan bahan-bahan baru lainnya.
Untuk konstruksi bangunan tradisional yang utama adalah penggunaan konstruksi kayu dan sistem panggung. Pondasi menggunakan konstruksi tiang pancang/paku bumi, dinding menggunakan papan, atap menggunakan atap daun atau atap sirap. Konstruksi dinding umumnya berfungsi sebagai dinding sekat.
Bangunan keraton menggunakan bahan dan konstruksi kayu dengan sistem panggung. Bangurlan Mesjid, Tempat , musyawarah, dan rumah tinggal umumnya juga. Menggunakan konstruksi kayu juga dengan sistem panggung. Karena sifat dari daya dukung tanah rendah dan permukaan air yang tinggi di daerah ini maka akan sukar membuat ruang bawah tanah basement. Demikian juga untuk bangunan tinggi sukar dilaksanakan terkecuali menggunakan sistem pondasi yang benar-benar kuat.
Susunan papan kayu pada korlstruksi dinding ada yang tegak dan ada pula yang horizontal. Dalam perkembangannya konstruksi dinding kayu diganti menjadi konstruksi beton tulangan pita baja( simpai ) dengan struktur rangka kayu. Beton tulangan ini mempunyai ketebalan 2-3 cm. Dari segi penampakan, sisi luar dinding berpenampkan datar, tetapi sisi lainnya penampakkan bagian rangka kayu yang sering tidak enak untuk dilihat. Untuk mengatasinya, pada sisi ini sering ditutup dengan kayu lapis (triples / multiplex).

g. Bentuk Atap
Ada dua bentuk atap yang umum dipakai untuk rumah tinggal yaitu yang berbentuk limas dan yang berbentuk plana. Bentuk atap bangunan Mesjid lebih bervariasi. Tetapi umumnya tidak menggunakan bentuk kubah. Sebagaimana halnya bangunan-bangunan tropis, bentuk atap bangunan di Kalbar juga berciri tropis dengan tritisan yang besar. Pada bagaian dinding pertemuan atap ada yang diberi jendela untuk memasukkan cahaya matahari. Bentuk atap keraton-keraton ini mempunyai beberapa kemiripan, antara lain: terbuat dari kayu sirap, bentuk atap limasan dengan lebihan bidang dan terpotong tegak lurus serta bertumpuk-tumpuk dengan diselingi dinding, tidak bertalang, adanya ornamen pada lisplang, puncak atap atau bubungan, dan penggunaan konsol-kosol pada tritisan atap. Pada ruang di bawah atap sering dimanfaatkan untuk menyimpan barang. Hal ini dijumpai pada rumah adat suku Melayu

h. Organisasi Ruang
Organisasi ruang lebih banyak didasarkan pada segi kenyamanan dan fungsi ruang. Pada rumah-rumah adat biasanya dilengkapi dengan ruang teras depan yang cukup , luas. Demikian pula pada keraton-keraton bahkan ada yang memiliki teras atas yang cukup luas. Pada keraton, ruang inti berada di tengah-tengah dengan ruang-ruang pendukung di sekelilingnya. Keluarga raja tinggal di dalam keraton Organisasi ruang pada rumah panjang adalah linear, sedangkan pada rumah-rumah adat Melayu, keraton dan lain-lainya kebanyakan berpola cluster. Selain ditentukan dengan zoning, organisasi ruang pada arsitektur tradisional juga mempunyai hirarkhi dengan derajat tertinsggi berada di tengah bangunan .

i. Sistem Penghawaan Udara
Pintu dan jendela umumnya berukuran besar dan tinggi. Hal ini sangat membantu terjadinya sirkulasi udara yang larlcar sebagai upaya mengurangi hawa panas . Pada rumah panjang adapula yang memiliki jendela yang bisa dibuka tutup pada bagian atapnya. Jendela ini selain berfungsi memasukkan cahaya untuk penerangan alami juga melancarkan sirkulasi udara.

j. Fasade Bangunan
Fasade bangunan pada keraton keraton Melayu Kalbar memiliki kekhasan tersendiri. Fasade bangunan mempunyai peranan penting dalam memberikan kesan Melayu yang dipadukan dengan perkembangan agama islam. Bentuk fasade bangunan banyak diambil dari bentuk bentuk masjid dan perpaduan arsitektur maleayu dengan banyak dipengaruhi oleh nuansa islami. Dari fasade ini timbul ciri khas keraton keraton pada masing masing daerah. Namun walaupun terjadi perbedaan dalam mengungkapkan fasade ini, keraton keraton yang tersebar di Kalimantan barat ini tetap mencirikan arsitektur Melayu Islam.
Selain keraton, rumah tinggal juga memiliki ke khasan pada fasadenya. Berikut adalah beberapa contoh dari analisa mengenai fasade bangunan arsitektur Melayu KalimantanBarat.

Penutup

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa kekayaan arsitektur Melayu Kalimantan Barat memiliki ciri khas tersendiri. Kekayaan ini harus dilestarikan dengan menjaga aset rumah tradisional yang masih tersisa sebagai khasanah budaya terutama khasanah arsitektur lokal. Kekayaan arsitektur ini bisa dijadikan sebagai acuan untuk membangun gedung gedung atau tempat tempat publik lainnya yang mencirikan arsitektur setempat. Bisa juga arsitektur ini dikembangkan lebih lanjut dengan tidak menghilangkan kaidah kaidah atau prinsip prinsip arsitektural rumah Melayu Kalimantan Barat.
Unsur unsur yang ada pada bangunan dapat dipakai sebagai penambah ciri daerah pada bangunan. Pengembangan arsitektur Melayu ini dapat dijadikan arsitektur regional yang memiliki gaya yang unik dan khas setempat. Pembangunan gedung atau bangunan lainnya hendaknya mengambil atau mengadopsi arsitektur regional ini . Dengan demikian nantinya diharapkan bangunan bangunan yang didirkan akan memiliki gaya arsitektur setempat, bukan arsitektur dari luar seperti arsitektur yang bergaya eropah atau lainnya. Penggunaan arsitektur regional ini akan membantu pemerintah untuk melestarikan budaya Kalimantan Barat agar tidak punah. Sehingga generasi mendatang bisa menikmati dan dapat memahami bahwa arsitektur Melayu memiliki khasanah kekayaan tersendiri dari arsitektur daerah lainnya.

FILOSOFI RUMAH MELAYU

Posted in Uncategorized with tags , , , on Maret 18, 2009 by studiomelayu

KERATON KADRIYAH, PONTIANAKPENDAHULUAN
Dalam budaya Melayu, seni pembangunan rumah tradisional disebut dengan istilah Seni Bina. Rumah memiliki arti yang sangat penting bagi orang Melayu. Rumah bukan saja sebagai tempat tinggal di mana kegiatan kehidupan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tetapi juga menjadi lambang kesempurnaan hidup. Beberapa ungkapan tradisional Melayu menyebutkan rumah sebagai “Cahaya Hidup di Bumi, Tempat Beradat Berketurunan, Tempat Berlabuh Kaum Kerabat, Tempat Singgah Dagang Lalu, Hutang Orang tua kepada Anaknya”.
Dalam pergaulan sehari-hari orang Melayu, rumah kediaman menjadi ukuran apakah seseorang bertanggung jawab terhadap keluarganya atau tidak. Orang yang tidak berumah sendiri, lazim dianggap tidak atau kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak istrinya. Oleh karena itu orang Melayu selalu berusaha mendirikan rumah kediaman. Walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Orang Melayu mengatakan bahwa semut,hewan yang sangat kecil saja mampu membangun rumah kediamannya.
Maka mustahil manusia tidak mampu mendirikan rumah kediamannya. Orang tua-tua mengatakan, kalau manusia tidak berumah, seperti beruk buta di dalam rimba. Ungkapan ini bagi orang Melayu sangat memalukan. Bukan saja bagi pribadinya, tetapi juga bagi keluarga dan kaum kerabatnya. Orang Melayu juga mendambakan rumah kediaman yang baik dan sempurna, yang bangunan fisiknya memenuhi ketentuan adat dan keperluan penghuninya. Sedangkan dari sisi spiritualnya, rumah itu dapat mendatangkan kebahagiaan, kenyamanan, kedamaian dan ketenteraman.
Hal ini menjadikan rumah mustahak dibangun dengan berbagai pertimbangan yang cermat, dengan memperhatikan lambang-lambang yang merupakan refleksi nilai budaya masyarakat pendukungnya. Dengan cara demikian diyakini sebuah rumah akan benar-benar dapat memberikan kesejahteraan lahir dan batin, bagi penghuni rumah dan bagi masyarakat sekitarnya.
Lambang-lambang yang berkaitan dengan bangunan tradisional Melayu, bukan saja terdapat pada bagian-bagian bangunan. Tetapi juga dalam bentuk berbagai upacara, bahan bangunan dan nama-namanya, serta letak sebuah bangunan. Bangunan tradisional Melayu adalah suatu bangunan yang utuh, yang dapat dijadikan tempat kediaman keluarga, tempat bermusyawarah, tempat beradat berketurunan, tempat berlindung siapa saja yang memerlukannya.
Menurut tradisi, orang Melayu percaya kepada empat cahaya di bumi yang terdiri dari rumah tangga, ladang bertumpuk, beras padi, dan anak muda-muda. Cahaya pertama yaitu rumah tangga hendaklah dipelihara sebaik-baiknya dengan dipagari oleh adat atau tradisi. Karena luasnya kandungan makna dan fungsi bangunan dalam kehidupan orang Melayu, yang akan menjadi kebanggaan dan memberikan kesempurnaan hidup, bangunan sebaiknya didirikan melalui tata cara pembuatan yang sesuai dengan ketentuan adat. Dengan memakai tata cara yang tertib, barulah sebuah bangunan dapat disebut “Rumah Sebenar Rumah”.
Iklim setempat turut menentukan bentuk atau arsitektur tradisional rumah Melayu. Hal ini terlihat pada perkampungan Melayu yang berbentuk memanjang, berbanjar mengikuti jalur sungai atau jalur jalan. Pada umumnya rumah Melayu memiliki halaman yang luas dan ditumbuhi dengan pohon buah-buahan.
Sirkulasi udara dan cahaya matahari harus cukup memasuki setiap ruangan rumah, sehinga penghuni merasa segar dan nyaman. Berdasarkan iklim ini pula maka bentuk arsitektur rumah Melayu baik di darat maupun dekat dengan sungai dan pantai pada dasarnya berkolong atau berpanggung dan bertiang tinggi. Bentuk rumah panggung ini sangat berguna untuk penyelamatan dari bahaya banjir dan ancaman binatang buas, mengatasi kelembapan udara, dan merupakan tempat kerja darurat serta menyimpan perkakas kerja.
Dalam membangun rumah tradisional Melayu, syariat agama Islam sangat diperhatikan. Letak ruang kaum lelaki berbeda dengan ruang para perempuan. Ragam hias ukiran jarang dibuat dengan motif hewan ataupun manusia. Tetapi dengan masuknya pengaruh kebudayaan Timur Jauh dan negara-negara tetangga, serta motif-motif yang diperoleh pengukir-pengukir Melayu dari perantauan, maka muncullah ukiran-ukiran yang bermotifkan margasatwa, berupa gambar naga, ikan, burung, atau binatang lain. Motif-motif ini sudah barang tentu telah disesuaikan dengan iklim, adat resam, dan syariat agama Islam.
Hal penting yang harus diperhatikan dalam mewujudkan bangunan dan lambang-lambangnya adalah musyawarah. Oleh karena itu langkah pertama sebelum mendirikan sebuah bangunan adalah melakukan musyawarah. Baik antar keluarga ataupun dengan melibatkan anggota masyarakat lainnya. Di dalam musyawarah itu dibicarakan tentang jenis bangunan yang akan didirikan, kegunaannya, bahan yang diperlukan, lokasi bangunan, tukang yang akan mengerjakannya, dan waktu dimulainya pekerjaan. Biasanya dalam musyawarah itu dijelaskan pula segala pantangan dan larangan, adat dan kebiasaan yang harus dijalankan dengan tertib. Pengerjaannya ditekankan pada asas gotong royong.
Seorang anggota masyarakat yang mendirikan sebuah bangunan tanpa mengadakan musyawarah dapat dianggap orang yang kurang adab atau tak tahu adat. Orang tua-tua merasa dilangkahi dan orang muda-muda merasa ditinggalkan. Bangunan yang didirikan tanpa musyawarah terlebih dahulu akan menyebabkan pemiliknya mendapat umpatan dari masyarakat. Sedangkan bangunan itu sendiri dianggap mendatangkan sial.
Jadi, musyawarah dan kegotongroyongan yang menjadi dasar kehidupan tradisional merupakan landasan dari pekerjaan membuat sebuah rumah. Lambang-lambang yang berkenaan dengan bangunan tradisional Melayu tergambar dengan baik dalam upacara-upacara, ukuran bangunan, bagian-bangunan bangunan, dan ragam hiasnya.(*)
KARAKTERISTIK RUMAH MELAYU
Ditinjau dari tipologi dan fungsi ruang, rumah tradisional Melayu pada umumnya terdiri atas tiga jenis, yaitu Rumah Tiang Enam, Rumah Tiang Enam Berserambi, dan Rumah Tiang Dua Belas, atau Rumah Serambi. Rumah Tiang Dua Belas atau Rumah Serambi merupakan rumah besar dengan tiang induk sebanyak dua belas buah.
Tipologi rumah tradisional Melayu adalah rumah panggung atau berkolong, dan memiliki tiang-tiang tinggi. Hal ini sesuai dengan iklim setempat serta kebiasaan yang sudah turun temurun. Tinggi tiang penyangga rumah sekitar dua sampai dua setengah meter. Tinggi rumah induk bagian atas sekitar tiga atau tiga setengah meter. Suasana di dalam ruangan sejuk dan segar karena banyak memiliki jendela serta lubang angin (ventilasi).
Setiap ruangan pada rumah Melayu memiliki nama dan fungsi tertentu. Selang depan berfungsi sebagai tempat meletakkan barang-barang tamu, yang tidak dibawa ke dalam ruangan. Ruang serambi depan berfungsi sebagai tempat menerima tamu pria, tetangga dekat, orang-orang terhormat, dan yang dituakan. Ruangan serambi tengah atau ruang induk berfungsi sebagai tempat menerima tamu agung, dan yang sangat dihormati.
Ruang selang samping berfungsi sebagai tempat meletakkan barang yang tidak dibawa ke dalam ruang serambi belakang. Tempat ini merupakan jalan masuk bagi tamu perempuan. Ruang dapur dipergunakan untuk memasak dan menyimpan barang-barang keperluan dapur. Karena susunan papan lantainya jarang, maka sampah dapat langsung dibuang ke tanah. Ruangan kolong rumah biasanya digunakan sebagai tempat bekerja sehari-hari dan menyimpan alat-alat rumah. Sedangkan WC dan kandang ternak (kambing atau ayam) letaknya agak di belakang rumah.
Dari antara jenisnya, rumah kediaman lazim disebut rumah tempat tinggal atau rumah tempat diam, yaitu rumah yang khusus untuk tempat kediaman keluarga. Di dalam kehidupan sehari-hari, rumah kediaman wajib dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya agar lebih memberi kenyamanan dan kebahagiaan bagi penghuninya. Berdasarkan bentuk atapnya, rumah kediaman dinamakan Rumah Bubung Melayu atau Rumah Belah Rabung atau Rumah Rabung.
Nama Rumah Bubung Melayu diberikan oleh para pendatang bangsa asing, terutama Cina dan Belanda, karena berbeda dengan bentuk rumah mereka, yaitu seperti kelenteng maupun rumah limas yang mereka sebut sebagai rumah Eropa. Sedangkan nama Rumah Belah Rabung diberikan oleh orang Melayu. Karena bentuk atapnya terbelah oleh bubungannya. Orang tua-tua menyebut dengan nama Belah Krol yaitu rambut yang disisir terbelah dua. Nama Rumah Rabung berasal dari kata Rabung, singkatan dari Perabung. Penyebutan ini untuk membedakan dengan bentuk atap yang tidak memakai perabung seperti bangunan pondok ladang atau gubuk yang disebut Pondok Pisang Sesikat.
Sebutan lain yang diberikan untuk rumah adalah berdasarkan pada bentuk kecuraman dan variasi atap. Rumah dengan atap curam disebut rumah Lipat Pandan. Jika atapnya agak mendatar disebut rumah Lipat Kajang, dan bila atapnya diberi tambahan di bagian bawah (kaki atap) dengan atap lain maka disebut rumah Atap Layar atau Rumah Ampar Labu.
Penamaan lain adalah berdasarkan pada posisi rumah terhadap jalan raya. Rumah yang dibuat dengan perabung atap sejajar dengan jalan raya di mana rumah itu terletak, disebut Rumah Perabung. Sedangkan bila perabung rumah tegak lurus terhadap jalan raya di mana umah itu menghadap, disebut Rumah Perabung Melintang.
Rumah didirikan di atas tiang yang tingginya antara 1,50—2,40 Meter. Ukuran rumah tidak ditentukan. Besar kecilnya bangunan bergantung kepada kemampuan pemiliknya. Pada rumah yang didirikan di daerah tepi sungai atau pantai, tiang dibuat tinggi supaya rumah tidak terendam air pasang. Kolong rumah sering digunakan untuk tempat bertukang membuat perahu atau pekerjaan lain. Di samping sebagai tempat menyimpan sebagian alat pertanian dan alat nelayan.(*)
BAGIAN-BAGIAN RUMAH MELAYU
1. ATAP DAN BUBUNGAN
Bahan utama atap adalah daun nipah dan daun rumbia. Tetapi pada perkembangannya sering dipergunakan atap seng. Atap dari daun nipah atau rumbia dibuat dengan cara menjalinnya pada sebatang kayu yang disebut bengkawan. Biasanya dibuat dari nibung atau bambu. Pada bengkawan tersebut atap diletakkan, dijalin dengan rotan, kulit bambu atau kulit pelepah rumbia. Jika atap dibuat dari satu lapis daun saja maka disebut Kelarai. Sedangkan jika terdiri atas dua lapis disebut Mata Ketam. Atap Mata Ketam lebih rapat, lebih tebal dan lebih tahan dari atap Kelarai.
Isi perut rotan atau bambu dipakai sebagai penjalin atau disebut liet. Untuk membuat liet bambu atau rotan dilayuh dengan api. Kemudian direndam ke dalam air. Sesudah beberapa waktu dibelah dan diambil isinya, dibuat seperti helai-helai rotan yang lazim dipakai sebagai anyaman. Untuk memasang atap dipergunakan tali rotan. Sedangkan untuk memasang perabung dipergunakan pasak yang terbuat dari nibung. Pekerjaan memasang atap disebut dengan Menyangit.
Rumah Melayu asli memiliki bubungan panjang sederhana dan tinggi. Ada kalanya terdapat bubungan panjang kembar. Pada pertemuan atap dibuat talang yang berguna untuk menampung air hujan. Pada kedua ujung perabung rumah induk dibuat agak terjungkit ke atas. Dan pada bagian bawah bubungan atapnya melengkung, menambah seni kecantikan arsitektur rumah Melayu. Pada bagian belakang dapur bubungan atap dibuat lebih tinggi, berjungkit. Bagian ini disebut Gajah Minum atau Gajah Menyusu. Pada ujung rabung yang terjungkit diberi sekeping papan bertebuk sebagai hiasan, yang juga berfungsi sebagai penutup ujung kayu perabung. Selanjutnya pada bagian bawah, papan penutup rabung ini dibuat semacam lisplang berukir, memanjang menurun sampai ke bagian yang sejajar dengan tutup tiang.
Dalam bahasa Melayu papan lisplang berukir ini disebut Pamelas. Dengan demikian bentuk pamelas ini melengkung mengikuti bentuk rangka atapnya. Ukiran pada papan pamelas ini ada yang selapis dan ada pula yang dua lapis. Hal ini tampak pada lisplang tutup angin yang memiliki ragam hias Ricih Wajit. Dilihat dari bentuknya, bubungan rumah Melayu dapat dibedakan menjadi a). Bubungan Panjang Sederhana b). Bubungan Lima c). Bubungan Perak d). Bubungan Kombinasi e). Bubungan Limas f). Bubungan Panjang Berjungkit g). Bubungan Gajah Minum.
2. PERABUNG DAN TEBAN LAYAR
Perabung memiliki bentuk lurus. Sebagai lambang lurusnya hati orang Melayu. Sifat lurus itu haruslah dijunjung tinggi di atas kepala dan menjadi pakaian hidup. Hiasan yang terdapat pada perabung rumah adalah hiasan yang terletak di sepanjang perabung, disebut Kuda Berlari. Hiasan ini amat jarang dipergunakan. Lazimnya hanya dipergunakan pada perabung istana, Balai Kerajaan dan balai penguasa tertinggi wilayah tertentu.
Adapun Teban Layar biasa pula disebut Singap, Ebek atau Bidai. Bagian ini biasanya dibuat bertingkat dan diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi. Pada bagian yang menjorok keluar diberi lantai yang disebut Teban Layar atau Lantai Alang Buang atau disebut juga Undan-undan. Bidai lazimnya dibuat dalam tiga bentuk, yakni bidai satu (bidai rata), bidai dua (bidai dua tingkat) dan bidai tiga (bidai tiga tingkat). Setiap nama itu mempunyai lambang tertentu.
3. TIANG
Bangunan tradisional Melayu adalah bangunan bertiang. Tiang dapat berbentuk bulat atau bersegi. Sanding Tiang yang bersegi diketam dengan ketam khusus yang disebut Kumai. Sanding Tiang adalah sudut segi-segi tiang. Di antara tiang-tiang itu terdapat tiang utama, yang disebut Tiang Tua dan Tiang Seri. Tiang Seri adalah tiang-tiang yang terdapat pada keempat sudut rumah induk, merupakan tiang pokok rumah tersebut.
Tiang ini tidak boleh bersambung, harus utuh dari tanah sampai ke tutup tiang. Sedangkan tiang yang terletak di antara tiang seri pada bagian depan rumah, disebut Tiang Penghulu. Jumlah tiang rumah induk paling banyak 24 buah. Sedangkan tiang untuk bagian bangunan lainnya tidaklah ditentukan jumlahnya. Pada rumah bertiang 24, tiang-tiang itu didirikan dalam enam baris. Masing-masing baris 4 buah tiang, termasuk tiang seri.
Jika keadaan tanah tempat rumah itu didirikan lembek atau rumah itu terletak di pinggir, maka tiang-tiang itu ditambah dengan tiang yang berukuran lebih kecil. Tiang tambahan itu disebut Tiang Tongkat. Tiang Tongkat biasanya hanya sampai ke rasuk atau gelegar. Untuk menjaga supaya rumah tidak miring, dipasang tiang pembantu sebagai penopang ke dinding atau ke tiang lainnya. Tiang ini disebut Sulai.
Bahan untuk Tiang Seri haruslah kayu pilihan. Biasanya teras kayu Kulim, Naling, Resak dan Tembesu. Untuk Tiang Tongkat atau Sulai cukup mempergunakan kayu biasa. Tiang-tiang lainnya mempergunakan kayu keras dan tahan lama. Bila di daerah itu kayu sukar dicari, maka Nibung (kayu dari pohon kelapa) dipergunakan sebagai Tiang Tongkat atau Sulai. Tetapi Nibung tidak dapat dipergunakan untuk Tiang Seri atau tiang-tiang lainnya.
Ukuran maksimum dan minumum sebuah tiang tidak ditentukan. Ukuran ini bergantung kepada besar atau kecilnya rumah. Semakin besar rumahnya, besar pula tiang-tiangnya. Tiang yang kelihatan di bagian dalam rumah selalu diberi hiasan berupa ukiran. Untuk pemilik rumah yang mampu, seluruh tiangnya dibuat persegi. Tetapi bagi yang kurang mampu, tidak seluruh tiang persegi, melainkan hanya tiang seri atau beberapa tiang lainnya, atau bahkan semuanya bulat.
Bentuk tiang secara tradisional, mengandung lambang yang dikaitkan dengan agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat. Termasuk kaitannya dengan alam lingkungan dan arah mata angin. Lambang-lambang itu kemudian dijalin dengan makna tertentu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
4. PINTU
Pintu disebut juga Lawang. Pintu masuk di bagian muka rumah disebut pintu muka. Sedangkan pintu di bagian belakang disebut pintu dapur atau pintu belakang. Pintu yang ada di ruangan tengah pada rumah yang berbilik, pintu yang menghubungkan bilik dengan bilik disebut pintu malim atau pintu curi. Pintu ini khusus untuk keluarga perempuan terdekat atau untuk anak gadis, dan dibuat terutama untuk menjaga supaya jika penghuni rumah memiliki keperluan dari satu bilik ke bilik lainnya tidak melewati ruangan tengah. Apalagi bila di ruangan tersebut sedang ada tamu.
Sudah menjadi adat, bahwa ruangan tengah dipergunakan untuk menerima tamu yang terdiri dari orang tua-tua, atau kerabat terdekat yang dihormati. Amatlah tabu kalau anak-anak, terutama anak gadis, atau pemilik rumah lalu lalang di depan tamu untuk mengambil sesuatu dari biliknya.
Untuk menghindarkan hal yang dilarang tersebut, maka dibuat pintu khusus yang disebut pintu malim atau pintu curi. Di samping itu ada pula pintu yang dibuat khusus disebut Pintu Bulak, yaitu pintu yang tidak memiliki tangga keluar. Pada prinsipnya pintu ini sama seperti jendela, hanya ukurannya yang berbeda. Biasanya bagian bawah pintu ini diberi pagar pengaman berupa kisi-kisi bubut atau papan tebuk. Di situ diletakkan kursi malas, yakni kursi goyang, tempat orang tua duduk berangin-angin. Dari tempat orang tua-tua itu memperhatikan anak-anak bermain di halaman. Di situ pulalah orang tua-tua duduk sambil membaca kitab dan minum kahwa (kopi).
Pintu berbentuk persegi empat panjang. Ukuran pintu umumnya lebar antara 60 sampai 100 Cm, tinggi 1,50 sampai 2 Meter. Pada mulanya pintu tidak memakai engsel. Untuk membuka dan menutup pintu dipergunakan semacam Putting yang ditanamkan ke bendul atau balok sebelah bawah dan balok sebelah atas pintu. Kunci dibuat dari kayu yang disebut Pengkelang. Pintu masuk ke rumah harus mengarah ke jalan umum.
Pintu dapat terdiri atas satu atau dua daun pintu. Pintu dikunci memakai belah pintu atau Pengkelang (palang pintu dari sebelah dalam). Belah pintu adalah sebatang Broti yang dipalangkan pada kedua Jenang atau kosen pintu.
Pintu sebaiknya terletak di kiri rumah atau dekat ke bagian kiri rumah. Di atas pintu kebanyakan dibuat tebukan yang indah bentuknya menunjukkan ketinggian martabat di empunya rumah.
5. JENDELA
Jendela lazim disebut Tingkap atau Pelinguk. Bentuknya sama seperti bentuk pintu. Tetapi ukurannya lebih kecil dan lebih rendah. Daun jendela dapat terdiri atas dua atau satu lembar daun jendela. Hiasan pada jendela dan pagar selasar disebut juga Kisi-kisi atau Jerajak. Kalau bentuknya bulat disebut Pinang-pinang atau Larik. Bila pipih disebut Papan Tebuk. Hiasan ini melambangkan bahwa pemilik bangunan adalah orang yang tahu adat dan tahu diri.
Ketinggian letak jendela di dalam sebuah rumah tidak selalu sama. Perbedaan ketinggian ini adakalanya disebabkan oleh perbedaan ketinggian lantai. Ada pula yang berkaitan dengan adat istiadat. Umumnya jendela tengah di rumah induk lebih tinggi dari jendela lainnya. Tingkap pada singap disebut tingkap bertongkat. Tingkap ini merupakan jendela anak dara yang lazimnya berada di ruangan atas (para).
Tingkap yang terletak pada bubungan dapur disebut Angkap. Jendela dibuka keluar, ada yang berdaun satu dan kebanyakan berdaun dua. Jendela dibuat dari papan dan digantung dengan engsel pada kosen. Pada kosen ini dipasang kisi-kisi atau Telai yang tingginya 80—9- Cm, dan biasanya diberi ukiran.
Jendela mengandung makna tertentu pula. Jendela yang sengaja dibuat setinggi orang dewasa berdiri dari lantai, melambangkan bahwa pemilik bangunan adalah orang baik-baik dan patut-patut dan tahu adat tradisinya. Sedangkan letak yang rendah melambangkan pemilik bangunan adalah orang yang ramah tamah, selalu menerima tamu dengan ikhlas dan terbuka.
Sama seperti pintu, jendela pun pada awalnya tidak memakai engsel. Tetapi mempergunakan Putting. Kuncinya juga dibuat dari kayu yang disebut Pengkelang. Sebagai pengaman, di jendela dipasang jerajak panjang yang disebut Kisi-kisi atau Jerajak yang terbuat dari kayu segi empat atau Bubutan (Larik). Kalau jendela itu tidak memakai jerajak, biasa pula diberi panel di sebelah bawahnya, yang tingginya antara 30 sampai 40 Cm.
6. TANGGA
Tangga naik ke rumah pada umumnya menghadap ke jalan umum. Tiang tangga berbentuk segi empat atau bulat. Kaki tangga terhunjam ke dalam tanah atau diberi alas dengan benda keras. Bagian atas disandarkan miring ke ambang pintu dan terletak di atas bendul. Anak tangga dapat berbentuk bulat atau pipih. Anak tangga kebanyakan berjumlah ganjil. Sebab menurut kepercayaan, bilangan genap kurang baik artinya. Tangga depan selalu berada di bawah atap dan terletak pada pintu serambi muka atau selang muka. Tangga penghubung setiap ruangan terdiri atas satu atau tiga buah anak tangga.
Di sebelah kiri dan kanan tangga ada kalanya diberi tangan tangga yang dipasang sejajar dengan tiang tangga. Dan selalu diberi hiasan berupa Kisi-kisi Larik (Bubut) atau Papan Tebuk (Papan Tembus). Anak tangga adakalanya diikat dengan tali kepada tiang tangga. Tetapi kalau pipih dipahatkan (Purus) ke dalam tiang tangga. Tali pengikat umumnya terbuat dari rotan.
Jumlah anak tangga tidak ditentukan. Tetapi bergantung kepada tinggi atau rendahnya rumah tersebut. Semakin tinggi rumah itu, akan semakin banyak pula anak tangganya. Sedangkan jarak antara anak tangga-anak tangga itu tidak pula ditentukan, hanya menurut kebiasan yakni sekitar satu hasta. Lazimnya tangga yang mengandung lambing tertentu hanya tangga muka bangunan. Tangga inilah yang disebut leher berpangkak pada bendul, kepala bersandar ke jenang pintu, anak bersusun tingkat bertingkat, tempat pusaka melangkah turun, tempat mengisik-ngisik debu dan tempat membasuh-basuh kaki.
Dalam bangunan tradisional Melayu, terdapat dua jenis tangga, yakni tangga bulat dan tangga picak tangga bulat yakni tangga dari kayu bulat. Anak tangganya diikat dengan rotan ke induk tangga. Susunan anak tangga, cara mengikat tali tangga dan bagian-bagian induk tangga mengandung makna tertentu.
Tangga picak adalah tangga pipih yang terbuat dari papan tebal. Jika anak tangga menembus tiang tangga, maka disebut Pahatan Tebuk atau Tangga Bercekam. Kepala tiang tangga selalu diberi ukiran yang disebut Kumaian, demikian pula pada sisi tiang tangga.
7. LANTAI
Lantai rumah induk umumnya diketam rapi dengan ukuran lebar antara 20 sampai 30 Cm. untuk merawat lantai dipergunakan minyak kayu yang disebut Minyak Kuing. Lantai biasanya dibuat dari papan kayu meranti, medang atau punak atau anak-anak kayu yang disebut Anak Laras. Lantai yang terbuat dari belahan nibung biasanya ditempatkan di ruang belakang, atau di tempat yang selalu kena air, seperti dapur. Lantai nibung ini tidak dipaku, tetapi dijalin dengan rotan dan lebarnya antara 5 sampai 10 Cm. Susunan lantai sejajar dengan rasuk dan melintang di atas gelagar, di mana ujungnya dibatasi oleh bendul.
Cara merapatkan papan atau bilah lantai dalam sebuah rumah tidak selalu sama. Lantai di rumah induk selalu disusun rapat. Bahkan diberi lidah yang disebut Pian. Sedangkan di ruangan Dapur, di beberapa tempat disusun jarang atau agak jarang. Selain dirapatkan dengan cara Pian, bilah lantai dapat dirapatkan dengan cara Bersanding. Setiap bentuk itu mempunyai makna tertentu.
Tinggi lantai rumah Melayu tidak sama. Lantai rumah induk lebih tinggi dibandingkan dengan lantai beranda depan dan beranda belakang. Lantai beranda lebih tinggi dari lantai selasar. Lantai selasar lebih tinggi dari lantai dapur. Ada kalanya sama dengan lantai Penanggah. Tinggi lantai rumah induk biasanya lima sampai enam kaki dari permukaan tanah. Lantai serambi depan lebih rendah satu kaki dari lantai ruang duduk. Demikian pula beranda belakang. Lantai dapur lebih rendah lagi dari lantai beranda belakang dan yang paling rendah adalah lantai Selang atau Pelataran. Lantai selang dibuat jarang berjarak sekitar dua jari dengan lebar papan empat inci.
8. DINDING
Papan dinding dipasang vertical. Kalau pun ada yang dipasang miring atau bersilangan, pemasangan tersebut hanya untuk variasi. Cara memasang dinding umumnya dirapatkan dengan Lidah Pian. Atau dengan susunan bertindih yang disebut Tindih Kasih. Cara lain adalah dengan pasangan horizontal dan saling menindih yang disebut Susun Sirih. Namun cara ini jarang dipakai. Untuk variasi sering pula dipasang miring searah atau miring berlawanan, dengan kemirinan rata-rata 45 derajat.
Pada umumnya dinding terbuat dari kayu meranti, punak, medang atau kulim. Tetapi untuk dinding dapur, ada kalanya dipergunakan kulit kayu meranti, pelepah rumbia atau bamboo. Papan dinding umumnya berukuran tebal 2—5 Cm, lebar 15—20 Cm. sedangkan panjangnya bergantung kepada tinggi jenang. Makna dinding selalu dikaitkan dengan sopan santun, yakni sebagai batas kesopanan.
Dinding rumah dibuat dari papan yang dipasang vertical dan dijepit dengan kayu penutup (dinding kembung). Kira-kira 20 Cm di bawah tutup tiang biasanya dibuat lubang angin. Pada lubang angin ini diberi hiasan dengan tebukan. Makin tinggi nilai tebukan ini, makin tinggilah martabat serta makin terpandang se empunya rumah
9. LOTENG
Dalam bahasa Melayu, Loteng disebut Langa. Loteng yang terletak di atas bagian belakang rumah, disebut Para. Namun tidak banyak rumah yang memiliki loteng. Pada rumah berloteng, lantai loteng dibuat dari papan yang disusun rapat.
Sama seperti rumah induk, hanya ukran lantai loteng lebih kecil dan lebih tipis. Pada rumah yang tidak berloteng, dalam upacara tertentu atas (loteng) ditutup dengan kain penutup yang disebut Langit-langit. Kain ini dibuat dari perca-perca kain aneka warna, dan dijahit menjadi sebuah bidang besar menurut pola tertentu. Loteng di bagian belakang (para) dibuat dalam bentuk yang sangat sederhana, dengan lantai papan yang disusun jarang.
Banyak pula loteng yang dibuat tidak menutup seluruh bagian atas ruangan. Tetapi hanya sebagian saja, berbentuk siku-siku atau berbentuk huruf L. loteng tidak seluruhnya berdinding. Pada bagian yang tidak berdinding dipasang hiasan kisi-kisi yang terbuat dari kayu bubutan atau Papan Tebuk.(*)
PENUTUP
Pada arsitektur tradisional Melayu terkandung nilai budaya yang tinggi. Hal ini terlihat dari bentuk bubungan yang tidak lurus. Tetapi agak mencuat ke kanan dan ke kiri. Dapat disimpulkan bahwa para ahli pembuat rumah Melayu zaman dahulu telah memikirkan faktor keindahan pada bubungan rumah yang mereka diami. Model Gajah Minum pada bubungan atap dapur diasosiasikan sebagai belalai gajah yang mencuat ke atas. Perumpamaan ini dipilih dengan anggapan bahwa gajah adalah binatang yang kuat, agung dan disegani.
Letak rumah Melayu pada zaman dahulu menghadap kea rah matahari terbit. Ini berarti mengharapkan berkah dan rahmat seperti halnya matahari pagi yang bersinar cerah. Tulang rabung tidak boleh dibuat hanya dari sebatang kayu utuh. Tetapi harus dibuat bersambung pada pertengahannya. Hal ini merupakan symbol tenggang rasa bagi pemilik rumah. Untuk mencari sebatang kayu yang cuku panjang serta sama besarnya dari pangkal ke ujung agak sulit. Maka cukup dipakai dua batang kayu yang agak pendek, sama besar dan kuat. Inilah simbol tenggang rasa bagi pemilik rumah.
Pemasangan kayu kasau tidak boleh terbalik, yaitu ujung kayu harus terletak di atas dan pangkal kayu terletak di bawah. Hal ini menunjukkan sistematika dan kerapian. Susunan ini juga sebagai lambing perkembangan dan pertumbuhan. Jika peletakannya terbalik, berarti perkembangan pemilik rumah akan terhambat dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Kamar anak gadis terletak di para-para (Loteng), dengan jalan masuk dan keluarnya dari ruang tengah. Hal ini untuk menjaga keselamatan dan kehormatan, serta harga diri keluarga. Untuk menjumpai sang gadis tidak mudah. Dan kedua orang tua selalu mengawasi tindak tanduk anak gadisnya. Kehormatan keluarga dilihat dari tingkah laku keluarga tersebut, baik dalam mendidik anaknya maupun perilaku anak itu sendiri di tengah masyarakat.
Dari segi keindahan, terlihat adanya ragam hias yang bermacam-macam bentuk dan coraknya, sehingga menunjukkan tingginya kebudayaan ukiran tradisional Melayu. Demikian pula dengan susunan ruangan. Terlihat adanya tingkatan penghormatan terhadap para temu yang datang. Tempat menerima tamu pria dan wanita dibedakan. Serambi depan untuk tamu pria dan serambi belakang untuk tamu wanita.
Rumah tradisional Melayu yang berbentuk rumah panggung selain untuk menjaga keselamatan penghuni dar ancaman binatang buas, juga dimaksudkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan pemilik rumah. Banyaknya jendela dan lubang angin menjamin kesegaran dan kenyamanan orang yang menempati rumah. Rumah serta letak jendela dan pintu yang tinggi membuat kedatangan tamu ataupun ancaman telah tampak dari jauh. Sehingga persiapan penyambutan dapat dilakukan dengan baik.
Orang Melayu yang telah merantau jauh dari tanah kelahirannya, dan ingin membangun rumah di tempat mereka tinggal sekarang, mungkin tidak cocok lagi dengan rumah tradisional Melayu seperti yang dibangun nenek moyang mereka dahulu. Kemajuan teknologi, tingkat pendidikan dan wawasan, tingkat social-ekonomi, serta tempat tingal atau domisili berpengaruh terhadap konsep, selera, serta kebutuhan orang Melayu tentang rumah. Hal ini tercermin pada cara pembuatan, pemilihan bahan, sekaligus bentuk dan fungsi rumah Melayu.
Pada proses pembangunan rumah, peranlain sebagainya dengan mantra-mantra yang bernuansa mistis dan animis tidak lagi dipandang perlu. Demikian juga halnya dengan perhitungan waktu, arah, serta lokasi rumah. Dengan alasan kepraktisan, upacara-upacara tidak lagi dilaksanakan. Musyawarah juga tidak lagi menjadi syarat, terutama bagi orang-orang Melayu yang tinggal di perkotaan. Pola hidup masyarakat kota yang sibuk dan cendrung individualistis menyebabkan pembangunan sebuah rumah menjadi persoalan pribadi sebuah keluarga. Bukan lagi persoalan masyarakat.
Bentuk dan fungsi rumah pun berubah. Rumah tidak lagi harus berupa rumah panggung, karena dengan pemakaian lantai keramik, bentuk rumah panggung mengharuskan lantai dicor beton. Dan ini mengakibatkan biaya pembuatannya menjadi mahal. Lagi pula, ruang kosong di bawah lantai pada rumah panggung kurang efisien dari segi fungsi. Tujuan semula pemilihan bentuk rumah panggung pada rumah tradisional, yaitu untuk mengantisipasi banjir dan pasang surut di daerah pantai, atau sebagai tempat orang bekerja, tidak lagi sesuai dengan situasi dan kondisi rumah di perkotaan. Sikap hidup orang modern yang lebih mengutamakan privacy juga membuat rumah tidak lagi berupa ruang-ruang terbuka yang mencerminkan masyarakat komunal. Kamar tidur menjadi kebutuhan pokok setiap anggota keluarga, selain ruang-ruang public yang memang dirancang untuk keperluan komunikasi social.
Paradoks dengan konsep rumah modern yang merupakan kebutuhan individu keluarga, rumah Melayu modern tidak harus dipisah-pisahkan fungsinya sebagaimana rumah tradisional yang dibedakan menjadi rumah kediaman, rumah ibadah, rumah balai, dan tempat penyimpanan. Rumah kediaman modern dapat saja berfungsi sekaligus sebagai rumah balai, rumah ibadah dan tempat penyimpanan. Konsep kerja kantoran yang tidak dijumpai pada masyarakat Melayu tradisional, sekarang menjadi pola hidup sebagian orang Melayu modern. Kegiatan kerja dapat ditampung sekaligus pada sebuah rumah kediaman atau rumah ibadah. Fungsi-fungsi social lain seperti perpustakaan, tempat penelitian, kajian, pengembangan budaya dan ilmu, juga dapat ditampung di rumah kediaman. Dalam hal ini rumah kediaman berfungsi sekaligus sebagai rumah balai, di mana kegiatan di rumah balai tidak hanya musyawarah anggota masyarakat untuk memutuskan sesuatu, tetapi lebih luas dan beragam. (sumer tulisan : syafarudin,pontianak)