BENTUK, SUSUNAN, DAN POLA RUANG ARSITEKTUR MELAYU KALIMANTAN BARAT

BENTUK, SUSUNAN, DAN POLA RUANG ARSITEKTUR

MELAYU KALIMANTAN BARAT

Oleh : Irwin Ramsyah,ST

Arsitektur Melayu yang ada di Kalimantan Barat memiliki beragam keunikan dan kekhasan yang masih terus harus di gali kekayaannya sebagai bukti keberagaman budaya bangsa,khususnya Melayu. Hampir semua rumah Melayu yang tersebar di Asia tenggara memiliki banyak persamaan dan perbedaan. Keberagaman dan perbedaan tersebut justru membawa keunikan dan membawa ciri khas masing masing daerah mengenai keberagaman masyarakat Melayu. Melayu Kalimantan Barat juga kaya akan keberagaman tersebut. Dalam tulisan ini, penulis ingin mengangkat rumah Melayu dari sudut pandang bentuk,susunan,dan pola ruang rumah Melayu yang ada di Kalimantan Barat sebagai bagian dari penambahan khasanah budaya Melayu.

Pendahuluan

Arsitektur merupakan salah satu produk dari kebudayaan. Arsitektur dari suatu bangsa, suku bangsa,masyarakat, daerah pada suatu masa seringkali berbeda-beda, baik dalam hal bentuk maupun konsep-konsep yang melandasinya. Banyak faktor Yang menyebabkan perbedaan ini antara lain adalah kebudayaan masyarakat atau bangsa

itu sendiri.Dari masa ke masa terlihat bahwa semakin lama manusia semakin memerlukan identitas. Identitas ini ditujukan bagi dirinya maupun benda-benda yang ada di sekelilingnya. Di bidang arsitektur, manusia menciptakan berbagai bentuk, simbol serta konsep-sonsep bangunan yang beragam yang antara lain adalah untuk memenuhi kebutuhan akan identitas tadi. Mengenai identitas arsitektur, sebenarnya masih merupakan Polemik yang tak kunjung habisnya. Mungkin dalam pencarian identitas tersebut memang tidak akan pernah dicapai kata akhir dikarenakan sifat dari arsitektur (kebudayaan) itu sendiri yang selalu berubah dan berkembang. Di Indonesia, jati diri arsitektur masih dalam tahap penelitian dan merupakan hal yang sering dipermasalahkan. Demikian pula jati diri arsitektur di daerah-daerah, masih perlu dipertanyakan. Tidaklah mudah mengemukakan suatu jawaban mengenai bentuk arsitektur yang berciri khas. Tetapi paling tidak diperlukan upaya-upaya menggali dan mengkaji konsep-konsep dan proses merancang yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan karya arsitektur yang secara utuh memiliki ciri sebagai karya arsitektur Indonesia atau pun arsitektur daerah. Merancang suatu bangunan yang dikehendaki dapat mewakili bentuk atau ciri daerah, misalnya pada gedung pemerintah, haruslah memandang budaya (adat) dan arsitektur setempat. Ini dapat dicapai dengan menggali sebanyak mungkin unsur-unsur yang membentuk ciri daerah tersebut.Pada tulisan ini kami mencoba mengemukakan bebera pa permasalahan, meneliti serta menggali beberapa konsep perancangan arsitektur tradisional di daerah Kalimantan Barat (Kalbar). Konsep-konsep tersebut selanjutnya diolah dan digabungkan dengan konsep-konsep arsitektur moderen. Konsep-konsep ini nantinya akan menjadi landasan konsepsual perencanaan dan perancangan gedung gedung pemerintah atau bangunan lainnya di Kalimantan Barat.

Pembahasan
Sejarah Kalimantan Barat pada umumnya berlatar ceritera rakyat. Hal ini terjadi karena sukar sekali mendapatkan tulisan-tulisan autentik konkrit. Namun ceritera rakyat bukan berarti tidak penting, sebab bersumber darl mereka yang benar benar mengalamlnya. Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat berawal dari kedatangan Prabu Jaya, anak Brawijaya dari Jawa, yang mengawini Junjung Buih. Dari perkawinan tersebut kemudian menurunkan raja-raja yang memerintah kerajaan dan sering berpindah-pindah lokasi serta berganti nama. Kerajaan yang ia dirikan pertama kali dimulai di Kuala Kandang Kerbau (Kabupaten Ketapang). Kerajaan ini terus berkembang dan terpecah-pecah. Salah satu kerajaan tertua dan yang terkenal saat itu adalah kerajaan Tanjungpura. Nama Tanjungpura kemudian diganti menjadi kerajaan Matan oleh Panembahan Busrah yang telah memin dahkan ibu kota pemerintahannya dari Tanjungpura Kerta Mulia.
Adapun kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Kalimantan Barat dan tersebar di beberapa daerah pedalaman antara lain adalah : Tanjungpura, Sukadana,Simpang, Matan, Mempawah, Sambas, Landak, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kubu, Pontianak. Beberapa peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut seperti Keraton, Mesjid, Bangunan Musayawarah, rumah tinggal dan sebagainya masih utuh sampai saat ini.

Bentuk-bentuk bangunan di Kalbar pada umumnya dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu: kepala, badan dan kaki. Atap dapat dianalogikan sebagai kepala, dinding atau badan bangunan sebagai badan, dan pondasi konstruksi panggung merupakan kaki. Perkembangan arsitektur di Kalimantan Barat sangat lambat. Bentuk-bentuk arsitektur di sana umumnya banyak dipengaruhi bentuk-bentuk dari luar dan merupakan campuran dari berbagai arsitektur bangunan Melayu, Cina dan Arab. Karakteristik hidup berdampingan secara akrab dan karakteristik lingkungan alam di sekitarnya terungkap pada pola perkampungan yang mengelompok padat memanjang sejajar atau tegak lurus arus sungai dan ada pula yang menyebar sepanjang jalan serta penggunaan bahan bangunan yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan kayu. Dalam membedah rumah melayu, penulis mengupasnya dari sudut pandang yang mengacu kepada susunan bentuk ruang dan tampak, yang mengidentifikasikan dalam beberapa hal berikut :

a) Pola perkampungan dan Gubahan Massa
Pola perkampungan suku Melayu ada yang mengelompok padat, memanjang sejajar sisi sungai dan ada pula yang menyebar sepanjang jalan. Kampung suku Melayu ini biasanya tidak dibatasi oleh suatu tanda khusus seperti tembok, pagar, tiarlg atau lainnya. Pola perkampungan di Kalbar sangat erat hubungannya dengan mata pencaharian penduduk. Umumnya penduduk di daerah ini mempunyai mata pencaharian yang bermacam-macam seperti bertani, menangkap ikan, menoreh getah, dan lain-lain. Oleh sebab itu pola perkampungan bagi nelayan berbeda dengan pola perkampungan petani. Untuk nelayan yang pekerjaaannya menangkap ikan di laut, mereka umumnya bertempat tinggal secara berkelompok di suatu daerah pantai ataupun muara sungai. Sedangkan bagi petani(petani padi, petani kelapa, petani getah) biasanya mendirikan rumah tinggalnya dekat dengan tempat mereka bekerja. Mereka mendirikan rumah di salah satu bagian kebun atau ladangnya.Maka dari itu pola perkampungannya bagi para petani ini secara bertebaran dan meluas, sedangkan bagi nelayan secara berkelompok.Pada masyarakat suku Melayu Kalbar dikenal beberapa jenis bangunan antara lain : rumah tinggal dengan berbagai type yaitu rumah kantor kawat, rumah potong godang dan rumah pondok Limas, kemudian rumah ibadah ( masjid ), rumah tempat musyawarah dan rumah tempat menyimpan.
Bangunan Keraton peninggalan kerajaan-kerajaan Melayu di Kalbar, umumnya berpola memusat, dengan istana raja sebagai pusatnya. Bangunan-bangunan keraton ini umumnya berukuran relatif besar, dehgan bangunan-bangunan pendukurig berada di sekelilingnya. Pada sekeliling Keraton jarang ditemui pagar yang mengelilingi seluruh kompleks bangunan. Pagar misalnya hanya ditemui pada bagian depan halaman keraton berupa pagar kayu atau pagar tanaman. Di depan Keraton terdapat tanah lapang yang digunakan untuk berbagai kegiatan. Keraton di Kalbar umumnya terletak di tepi sungai besar.
Hal ini berkenaan dengan fungsi sungai sebagai sarana transportasi jaman dahulu. Pada perkampungan atau kota di pinggir sungai ini biasanya memiliki dermaga sebagai tempat berlabuhnya perahu-perahu penduduk. Bentuk bangunan umumnya simetris, dengari Entrance bangunan yang cukup menonjol. Pada beberapa Kraton dilengkapi bangunan menara yang berfungsi sebagai tempat pengawasan. Beberapa dari keraton tersebut dilengkapi dengan serambi atas sebagai ruang duduk-duduk. Fasilitas-fasilitas sosial sperti bidang-ekonomi, pendidikan, kesehatan, olahraga, kesenian, hiburan maupun keagamaan terletak atau berlokasi tidak mengikuti suatu aturan khusus seperti di utara atau diselatan atau di pinggir sungai. Namun biasanya terletak di dekat keramaian

b) Orientasi, Orientasi dan Entrance
Umumnya masyarakat di Kalbar tidak begitu mempersoalkan arahnya pendirian sebuah bangunan. Selain dari menggunakan arah berdasarkan mata angin. Masyarakat biasanya lebih suka menggunakan nama-nama arah seperti hilir, hulu, ke muara, ke pantai, ke darat, ke seberang dan lain-lainnya. Selain itu umumnya seseorang mendirikan rumah tempat tinggal berderet-deret menghadap jalan ataupun berderet-deret menghadap arah memanjangnya tepi sungai. Jalan-jalan di daerah ini biasanya dibuat sejajar atau tegak lurus sungai. Sedangkan arah sungai atau pun jalan itu sendiri tidak menentu. Walaupun tidak ada suatu ketentuan mengenai arah bangunan ini. masyarakat setempat mempunyai suatu harapan. bahwa rumah tempat tinggal sebaiknya menghadap arah matahari terbit. Bila arah ini tidak mungkin. diusahakan arah rumah tersebut memungkinkan adanya sinar matahari masuk ke dalam ruangan. seperti ruangan tamu kamar tidur dan lain-lain.
Pola-pola sirkulasi pada arsitektur tradisional relatif masih sederhana. Hal ini disebabkan antara lain oleh jenis kegiatan yang masih sedikiĀ£. Pola-pola sirkulasi umumnya berbentuk linear dan terbuka. Pola sirkulasi pada keraton umunya berbentuk lurus, tegak lurus jalan, dan tegak lurus sungai, bersifat formal. Jalan tanah, jalan kayu sebagai tempat bersirkulasi berbentuk datar. Pada bagian pinggir sungai atau daerah yang sering terkena banjir jalan-jalan menggunakan konstruksi panggung. Jembatan kayu terdapat pada jalur sirkulasi yang melalui parit-parit. Pada Keraton Kerjaan Mempawah, akses menuju bangunan berpola lurus dan dikiri kanan jalan didirikan tiang-tiang pendek berukir berfungsi untuk mempertegas jalur pencapaian. Sirkulasi umumnya berupa jalantanah yang diperkeras, jalan rumput, dan jalan kayu.

c) Sumbu Simetri Hirarkhi dan Perulangan Sumbu Sumbu
Sumbu terbentuk oleh dua buah titik di dalm ruang dan terhadapnya bentuk-bentuk dan ruang-ruang dapat disusun menurut cara-cara yang teratur ataupun tidak teratur. Sumbu harus berbentuk linear dan diakhiri pada kedua ujungnya. Pada arsitektur tradisional penggunaan sumbu sebagai sarana untuk mengorganisir bentuk dapat terlihat pada bentuk-bentuk bangunan yang simetris. Pada beberapa bangunan sumbu dipertegas dengan penggunaan menara dan tiang-tiang vertikal serta susunan elemen- elemen arsitektural lainnya. Pola-pola sirkulasi dan bangunan kadangkala membentuk satu garis lurus yang menegaskan adanya sumbu.

Simetri
Suatu komposisi arsitektur tradisional dapat memanfaatkan simetri untuk mengorganisasi bentuk bentuk dan ruang ruangnya dalam dua cara, yaitu seluruh organisasi bangunan dapat dibuat simetri atau suatu kondisi simetris dapat terjadi hanya pada bagian tertentu dari bangunan dan mengorganisir suatu pola tak teratur dari bentuk bentuk dan ruang ruang ruang terhadapnya.Walaupun masih sederhana, tisak semua bangunan arsitektur tradisional di Kalbar berbentuk simetris tetapi ada juga yang berbentuk asimetris. Pada umumnya bentuk bangunan ini dikategorikan memiliki simetri bilateral, yaitu suatu susunan yang seimbang dari unsur- unsur yang sama terhadap suatu sumbu yang sama. Pola -pola simetri radial seringkali ditemukan pada ornamen -ornamen ( hiasan ) yang berpola geometrik .

Hirarkhi
Hirarkhi mengacu kepada pengertian perbedaan-perbedaan dan derajat kepen tingan dari bentuk-bentuk dan ruang-ruang dan peran-peran fungsional, formal dan simbolis yang dimainkan di dalam organisasinya .Hirarkhi pada arsitektur tradisional Kalbar dapat ditemui pada penggunaan ukuran yang luar biasa, bentuk bentuk unik dan lokasi strategis

Perulangan
Perulangan bentuk pada arsitektur tradisional Kalbar nyata terlihat pada konsep rumah adat melayu terdapat pada bentuk bentuk jendela ynag memiliki perulangan sama. Bentuk-bentuk perulangan lainnya ditemukan pada bentuk-bentuk tiang-tiang, bentuk-bentuk atap dan lain-lainnya.

d. Proporsi dan Skala
Sistem proporsi pada bangunan arsitektur tradisional Kalbar umumnya dapat dikelompokkan pada penggunaan proporsi anthromorpis, yaitu yang didasarkan pada dimensi-dimensi proporsi-proporsi tubuh manusia. Sistem proporsi yang ada di sana umumnya banyak ditentukan oleh dimensi-dimensi kayu komponen struktur/konstruksi. Pada bangunan kraton biasanya menggunakan skala monumental. Sedangkan bangunan rumah-rumah adat menggunakan skala manusia.

e. Sistem Struktur
Prinsip sistem struktur pada umumnya berupa penyaluran beban atap ke satu kolom atau disebarkan ke susunan kolom-kolom yang selanjutnya disalurkan ke pondasi paku bumi (tiang pancang) ke tanah. Jadi sistem struktur disana umumnya menggunakan sistem rangka kayu dengan dinding-dinding kayu sebagai panil dan pengaku struktur. Penggunaan pondasi tiang pancang/paku bumi mengandalkan tegangan gesek pada tanah. Pondasi ini umumnya tinggi membentuk sistem panggung. Oleh karena itu bangunan menjadi berkesan ringan yang seolah-olah melayang dari permukaan tanah.Pada sistem panggung ini ada beberapa macam type dan penyelesaian, antara lain : type panggung tinggi, dan type panggung rendah; type tertutup dan type terbuka. Pada konstruksi dinding atau beberapa bagian bagunan menggunakan susunan silang diagonal. Bentuk- bentuk seperti ini selain mempurlyai peran arsitektural juga struktural. yaitu menambah kekakuan struktur. Demikian pula pada susunan papan untuk dinding maupun lantai. disesuaikan dengan jarak antara kolom atau antara balok membentuk susunan vertikal atau horizontal.

f. Konstruksi Bangunan
Konstruksi bangunan hampir semuanya menggunakan konstruksi kayu. Dalam perkembangannya penggunaan papap papan untuk lantai dan dinding mulai digantikan dengan bahan bahan moderen seperti ubin keramik, ubin semen, dinding beton, dinding batako. Demikian pula pada atap semula menggunakan atap daun dan sirap, kemudian mulai digantikan dengan atap seng, asbes, genteng beton, dan bahan-bahan baru lainnya.
Untuk konstruksi bangunan tradisional yang utama adalah penggunaan konstruksi kayu dan sistem panggung. Pondasi menggunakan konstruksi tiang pancang/paku bumi, dinding menggunakan papan, atap menggunakan atap daun atau atap sirap. Konstruksi dinding umumnya berfungsi sebagai dinding sekat.
Bangunan keraton menggunakan bahan dan konstruksi kayu dengan sistem panggung. Bangurlan Mesjid, Tempat , musyawarah, dan rumah tinggal umumnya juga. Menggunakan konstruksi kayu juga dengan sistem panggung. Karena sifat dari daya dukung tanah rendah dan permukaan air yang tinggi di daerah ini maka akan sukar membuat ruang bawah tanah basement. Demikian juga untuk bangunan tinggi sukar dilaksanakan terkecuali menggunakan sistem pondasi yang benar-benar kuat.
Susunan papan kayu pada korlstruksi dinding ada yang tegak dan ada pula yang horizontal. Dalam perkembangannya konstruksi dinding kayu diganti menjadi konstruksi beton tulangan pita baja( simpai ) dengan struktur rangka kayu. Beton tulangan ini mempunyai ketebalan 2-3 cm. Dari segi penampakan, sisi luar dinding berpenampkan datar, tetapi sisi lainnya penampakkan bagian rangka kayu yang sering tidak enak untuk dilihat. Untuk mengatasinya, pada sisi ini sering ditutup dengan kayu lapis (triples / multiplex).

g. Bentuk Atap
Ada dua bentuk atap yang umum dipakai untuk rumah tinggal yaitu yang berbentuk limas dan yang berbentuk plana. Bentuk atap bangunan Mesjid lebih bervariasi. Tetapi umumnya tidak menggunakan bentuk kubah. Sebagaimana halnya bangunan-bangunan tropis, bentuk atap bangunan di Kalbar juga berciri tropis dengan tritisan yang besar. Pada bagaian dinding pertemuan atap ada yang diberi jendela untuk memasukkan cahaya matahari. Bentuk atap keraton-keraton ini mempunyai beberapa kemiripan, antara lain: terbuat dari kayu sirap, bentuk atap limasan dengan lebihan bidang dan terpotong tegak lurus serta bertumpuk-tumpuk dengan diselingi dinding, tidak bertalang, adanya ornamen pada lisplang, puncak atap atau bubungan, dan penggunaan konsol-kosol pada tritisan atap. Pada ruang di bawah atap sering dimanfaatkan untuk menyimpan barang. Hal ini dijumpai pada rumah adat suku Melayu

h. Organisasi Ruang
Organisasi ruang lebih banyak didasarkan pada segi kenyamanan dan fungsi ruang. Pada rumah-rumah adat biasanya dilengkapi dengan ruang teras depan yang cukup , luas. Demikian pula pada keraton-keraton bahkan ada yang memiliki teras atas yang cukup luas. Pada keraton, ruang inti berada di tengah-tengah dengan ruang-ruang pendukung di sekelilingnya. Keluarga raja tinggal di dalam keraton Organisasi ruang pada rumah panjang adalah linear, sedangkan pada rumah-rumah adat Melayu, keraton dan lain-lainya kebanyakan berpola cluster. Selain ditentukan dengan zoning, organisasi ruang pada arsitektur tradisional juga mempunyai hirarkhi dengan derajat tertinsggi berada di tengah bangunan .

i. Sistem Penghawaan Udara
Pintu dan jendela umumnya berukuran besar dan tinggi. Hal ini sangat membantu terjadinya sirkulasi udara yang larlcar sebagai upaya mengurangi hawa panas . Pada rumah panjang adapula yang memiliki jendela yang bisa dibuka tutup pada bagian atapnya. Jendela ini selain berfungsi memasukkan cahaya untuk penerangan alami juga melancarkan sirkulasi udara.

j. Fasade Bangunan
Fasade bangunan pada keraton keraton Melayu Kalbar memiliki kekhasan tersendiri. Fasade bangunan mempunyai peranan penting dalam memberikan kesan Melayu yang dipadukan dengan perkembangan agama islam. Bentuk fasade bangunan banyak diambil dari bentuk bentuk masjid dan perpaduan arsitektur maleayu dengan banyak dipengaruhi oleh nuansa islami. Dari fasade ini timbul ciri khas keraton keraton pada masing masing daerah. Namun walaupun terjadi perbedaan dalam mengungkapkan fasade ini, keraton keraton yang tersebar di Kalimantan barat ini tetap mencirikan arsitektur Melayu Islam.
Selain keraton, rumah tinggal juga memiliki ke khasan pada fasadenya. Berikut adalah beberapa contoh dari analisa mengenai fasade bangunan arsitektur Melayu KalimantanBarat.

Penutup

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa kekayaan arsitektur Melayu Kalimantan Barat memiliki ciri khas tersendiri. Kekayaan ini harus dilestarikan dengan menjaga aset rumah tradisional yang masih tersisa sebagai khasanah budaya terutama khasanah arsitektur lokal. Kekayaan arsitektur ini bisa dijadikan sebagai acuan untuk membangun gedung gedung atau tempat tempat publik lainnya yang mencirikan arsitektur setempat. Bisa juga arsitektur ini dikembangkan lebih lanjut dengan tidak menghilangkan kaidah kaidah atau prinsip prinsip arsitektural rumah Melayu Kalimantan Barat.
Unsur unsur yang ada pada bangunan dapat dipakai sebagai penambah ciri daerah pada bangunan. Pengembangan arsitektur Melayu ini dapat dijadikan arsitektur regional yang memiliki gaya yang unik dan khas setempat. Pembangunan gedung atau bangunan lainnya hendaknya mengambil atau mengadopsi arsitektur regional ini . Dengan demikian nantinya diharapkan bangunan bangunan yang didirkan akan memiliki gaya arsitektur setempat, bukan arsitektur dari luar seperti arsitektur yang bergaya eropah atau lainnya. Penggunaan arsitektur regional ini akan membantu pemerintah untuk melestarikan budaya Kalimantan Barat agar tidak punah. Sehingga generasi mendatang bisa menikmati dan dapat memahami bahwa arsitektur Melayu memiliki khasanah kekayaan tersendiri dari arsitektur daerah lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: